GELAR SASTRA KARYA MERDEKA JARI MENARI: Sudah Sejauh Mana Sastra Dekat Dengan Masyarakat Biasa

0
202
Mahasiswa pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Febrianiko Satria

Oleh: Febrianiko Satria

Suatu hari saya diceritakan oleh teman saya tentang sebuah desa yang semua penduduknya adalah seniman semua. Awalnya saya tidak percaya dengan cerita itu. Apalagi di Jambi itu pasti sesuatu yang langka. Dia lalu memintaku untuk membuat acara yang diadakan di lapangan terbuka yang dekat dengan masyarakat. Kembali aku tidak yakin karena entah bagaimana caranya.

Hingga akhirnya sore kemarin (15/8) saya mendapat undangan dari Komunitas Jari Menari yakni Gelar Sastra: Karya Merdeka. Lokasinya di Perumahan Citra Kenali depan Akbid Budi Mulya masih sekitaran RSJ Jambi. Itupun saya masih berpikir bahwa acara itu hanya seremonial biasa yang diisi oleh para pegiat-pegiat literasi saja sebagaimana yang sudah-sudah.

Namun malam itu (16/8) sungguh jauh berbeda. Dari awal pertama masuk saya sudah melihat acara itu sudah dijaga warga setempat bukan hanya anggota Komunitas Jari Menari yang saya tahu anggotanya masih mahasiswa UIN STS Jambi. Saya jadi semakin tidak sabar melihat acaranya.

Acara berlangsung mulai dari sambutan Ketua Jari Menari. Lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua RT setempat. Dilanjutkan dengan renungan tentang Kemerdekaan bersama semua peserta yang kebanyakan adalah warga Perumahan Citra Kenali.  Sebuah renungan syahdu tentang kemerdekaan dengan lilin dan pembacaan puisi lalu dilanjutkan dengan baca puisi oleh beberapa Komunitas mulai dari Komunitas saya sendiri yakni Kombes (Komunitas Berani Menulis), Lapak Baca Jambi, Sekolah Alam Raya  Muara Jambi dan beberapa tokoh masyarakat yakni Dani Aronds dan Ketua RT 62 Perumahan Citra Kenali tak ketinggalan pula penampilan seni oleh anak-anak RT 62 Perumahan Citra Kenali.

Menurut saya apa yang dilakukan oleh Komunitas Jari Menari adalah hal yang selama ini terlewatkan oleh pegiat literasi di Jambi. Betapa sering acara dilakukan di cafe-cafe. Namun lihatlah hasilnya, yang menonton hanya dari orang yang itu ke itu saja. Sangat jarang ada peserta dari masyarakat umum. Jika pun ada itu hanya kegiatan yang dilakukan oleh kantor pemerintahan. Kegiatan literasi yang diniatkan untuk menggalakkan literasi malah hanya menjadi pesta pora sesama pegiat tanpa memberikan manfaat bagi sekitar.

Sudah saatnya kita tidak hanya menunggu orang-orang peduli dengan apa yang kita lakukan. Kita juga harus mencoba agar membuat mereka lebih tertarik dengan literasi. Caranya ya dengan jemput bola. Tidak hanya menunggu dan menunggu.

Profil

Saya Febrianiko Satria lahir di Bulan Valentne yang sangat romantis jadi sudah pasti orangnya romantis. Hoby baca dan menghayal. Bercita-cita wisuda secepatnya dan berkeliling Indonesia sembari menulis tentang indahnya Indonesia. Saat ini masih aktif sebagai mahasiswa UNJA FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia. Aktif juga berorganisasi sebagai Ketua di Komunitas Berani Menulis

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here