Gila-gila Panggung

0
86

Oleh: Febrianiko Satria

Dia masih saja setia pada panggung itu. Entah kenapa dia begitu menyukainya. Dia berkata bahwa itu adalah nafas hidupnya. Dia berkata lagi bahwa itu adalah awal dan akhir hidupnya. Lantai panggung itu diciumnya dengan mesra layaknya sepasang kekasih.

Sepanjang waktu dijamahnya panggung itu. Tak peduli hujan panas datang. Dia tetap setia dengan panggung itu. Kau pasti bertanya apakah dia memiliki pekerjaan? Sudah tentu jawabnya Iya. Dia memiliki pekerjaan paling bermartabat di dunia ini. Namun sayangnya dia lebih gemar berada di panggung itu.

Kau pasti juga bertanya. Apakah Dia memiliki keluarga yang harus Dia urus? Jawabnya Iya. Dia memiliki keluarga. Di rumahnya yang lumayan besar. Istri dan lima anaknya selalu menunggu Dia. Apakah keluarganya tak rindu? Sudah pasti rindu. Ranjang pasti terasa hampa kalau Dia tak kunjung pulang ke rumah. Buru-buru ranjang, dapurnya pun tak kunjung mengebulkan asap. Sudah sejak lama tabung gas tiga kilo miliknya tidak pernah diganti bahkan karatan. Kau bertanya bagaimana perut anaknya? Perut anak-anaknya besar-besar karena busung lapar. Lengannya sangat kering tinggal tulang.

Pernah anaknya menyeletuk, “Ayah kapan pulang?” Istrinya hanya berkata “Sabar, Nak. Keringat Ayah begitu deras keluar disana.” Sayangnya anak-anak tidak mengerti tentang keringat. Mereka lebih perduli dengan usus-usus mereka yang selalu bersoneta sepanjang waktu.

 “Bu. Saya lapar, ” keluh anak pertamanya.

“Bu. Saya ingin makan ayam goreng seperti di televisi,” keluh anak kedua.

“Bu. Teman-teman sering makan es krim. Saya mau makan es krim, ” keluh anak ketiga. Bagaimana anak keempat dan kelima? Mereka hanya bisa menangis karena terlalu kecil untuk mengeluh.

Sang Ibu tentu berusaha untuk menenangkan hati anak-anaknya. Karena tak ada uang, Ibu merebus batu sembari berharap anak-anak tertidur. Sesuai dugaan Ibu, anak-anaknya tertidur karena lelah menunggu makanan. Ibu kembali bersedih menatap anak-anaknya yang terus kelaparan. Berbekal tekad kuat. Disusullah sang suami.

Dengan wajah berang istri menemui suami. “Ayah ayo pulang! Lihat anak-anak kita sudah berhari-hari tidak makan!” Sayangnya Dia tidak perduli. Dia masih memperdulikan panggung. Istri jadi kesal ditendang-tendangnya panggung itu. Lalu panggung diserakkannya sampah-sampah hasil nafsu manusia. Dia marah lalu minta cerai. Sang Istri menjadi menangis. Sesungukkan Istri meminta Dia untuk rujuk dan pulang. Namun apa daya dia lebih memilih panggung yang dia cintai. Diusirnya Istri jauh-jauh. Istri pun pulang dengan air mata yang tak pernah berhenti.

Kini hanya tinggal Dia berdua dengan panggung. Ditatapnya panggung dengan mesra. Dirayunya lah panggung itu. Puas merayu lalu disetubuhinya dengan nikmat. Malam pun berlalu dengan asmara ranjang paling konyol di muka bumi.

Pagi datang sesuai kodratnya. Dia membuka mata. Dikuceknya matanya. Dia tertawa girang. Ternyata panggungnya beranak menjadi dua. Dia lalu mencium mesra panggung sembari mengucapkan syukur.

Tidak lama kemudian. Datanglah ambulance dari Rumah Sakit Jiwa. Petugas lalu memaksa dia berpisah dengan panggung yang dia cintai. Namun petugas lebih kuat daripada dirinya. Dia lalu dibawa lari oleh ambulance itu.

Hari-hari berlalu. Dia yang mencintai panggung ternyata mengidap Scizopernia. Dia lalu berpesta pora dengan panggung lainnya di rumah sakit jiwa. Sementara panggung nya dulu mati suri. Lantai-lantainya pecah dipenuhi sampah-sampah. Penghuni panggung itu berganti dengan anjing dan kucing yang aman dari Scizofernia.

Jambi, 2017

Biodata

Saya Febrianiko Satria aktif sebagai mahasiswa tua UNJA FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia. Aktif juga berorganisasi sebagai Ketua di Komunitas Berani Menulis

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here