Gambar Ilustrasi

Oleh: Dudu Mawarida Sembiring Colia

 Tentu saja aku penasaran. Perlahan aku melangkah mendekat. Perlahan pula alam mimpiku pun semakin menghanyutkan. Begitulah kota Berastagi. Sekalipun bukan malam, kau dapat bermimpi.

“ Kau harus tahu itu duhai pantai Bali. Sekalipun kau indah, Berastagi juga punya ikon yang menakjubkan untuk di eksplorasi. Tak kalah darimu”. Toh, sampai saat ini kota itu menempati singgasana nomor satu dalam kalbuku. Sebab… ( sambil menatap Boin ), disanalah aku tersandung cinta kesekian kalinya. Ku yakin ini kali terakhir”

“ Bukankah begitu, Bo? ”, seakan sambil berlindung  dalam dekapnya.

“ Mana yang akan kau pilih, aku atau Anta Prima Ginting?”. Ku hanya diam menahan malu.

            Kembali pada scene mimpi. Tak ada rasa cemas saat mencoba mendekat dan mengatakan ‘hai’. Aku sudah tepat berada di depan pria itu. Tak ada gerak lain yang menandakan kecurigaannya. Eh,dia justru semakin terpaku pada telepon genggamnya. Bersamaan dengan itu aku juga membaca stiker di badan motor besar miliknya. Kira-kira begini.

 “Ula perkuanindu aku. Adi labo atei ndu kam man bangku”, artinya “jangan sapa aku. Jikalau kau tak mau padaku”. Apa-apaan itu! Jomblowan sekali.

            Ingin aku  menyapanya dan mengabaikan stiker yang baru ku baca. Tiba-tiba kegelapan menjadi sangat terang dan menyilaukan. Pria itu menghilang. Bahkan sebelum aku sadar betul bahwa aku baru saja terbangun. Rindangnya pohon peneduh dua kursi itu di tembus cahaya matahari yang baru saja berkulminasi.

Seluruhnya dari kami pulang menuju rumah paman yang belum jelas paman yang mana.

            “ pedasken kena kalak!”, ayah meminta kami bergerak cepat masuk ke mobil. Sepengetahuanku paman itu punya seorang anak laki-laki. Secara marga adalah mutlak kami rimpal (hubungan yang sangat di anjurkan dalam tutur peradatan suku Karo). Aku memikirkan bentuknya yang seperti apa, sedang yang lain duduk sambil rende lagu karo. Bodrex ras Inza. Cukup menghibur.

            Sesampainya kami di sana, tampak hanya aku yang terkejut dengan apa yang tertata di samping kiri dan kanan. Begitu banyak karangan bunga dan papan ucapan selamat untukku. Juga dia. Aku menggeleng-gelengkan kepala.

“ Anak gadismu sudah  dewasa. Sudah waktunya dia melepas masa kesendiriannya. Bagaimana menurutmu?. Siapa yang pantas kita jadikan menantu?”.

“ Bagaimana dengan Boin?, kau tau betul dia anak yang baik. Aku yakin, tanpa kita pertanyakan pada mereka, mereka akan saling jatuh cinta seketika”

Begitulah aku awalnya membenci ayah dan ibu yang ku ungkapkan di depan rumah yang sudah ramai orang. Puluhan bujukan terlempar. Meminta aku setidaknya mau melihat dan menilai pria yang akan di jodohkan denganku itu.

            “ Adi uga pe kari…bicara la ate ndu ngena nakku…ku rumah lah kam lebe. Sitandan kena”, bicara ayah penuh harap. Aku masuk dengan tampilan mengenakan kampuh (sarung yang di kenakan selayaknya rok) berwarna merah. Ku terima dari Nata.

Sumringah aku dengan ketampanan dia.  Makjang! gantengnya tak tanggung-tanggung. Hahaha..

Aku terbelalak tak melihat bahwa keluarga besar dari pihakku dan pihaknya, sedang melihat tingkah ku yang di anggap lucu. Belum sempat aku duduk. Ayah bertanya, “uga nakku?’, bertanya keputusanku.

            “ Tentukan tanggalnya, ya, Kila (Paman)!. Ya, Bi “, spontan ku jawab saja begitu.

            “Hahahaha…” mereka tertawa keras sambil mengarahkanku untuk duduk di dekatnya. Tak lupa mereka menabur beras ke atas kepala kami dan seluruh ruang tamu yang di penuhi oleh sanak saudara. Beras itu pertanda kehormatan dan pemberkatan. Aku malu berbalut bahagia. Mungkin pria di mimpi siang bolong tadi adalah pengahantar semua kebahagiaan ini.

Ups…Sayang sekali pantai, hari semakin gelap. Mungkin bila masa mengizinkan, akan aku ceritakan apa pun yang ingin kau ketahui. Kau saksi bisu cinta ku yang kini telah utuh. Kau ku nobatkan sebagai tempat terindah kedua bagi kami.

            “ Boin ku sayang, ayo kita pulang”,(melangkah saling tatap).

Selesai..

Biodata Penulis :

Penulis merupakan mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia

Fakultas FKIP Universitas Jambi, bertempat tinggal di Perumahan Mendalo Asri Blok F.No 10.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here