Gambar ilustrasi lelaki berpayung

Oleh : Endang Lestari

      Suara sepatu itu semakin dekat, langkah itu, aku semakin takut untuk membuka mata ini, badanku semakin dingin. Langkah itu semakin dekat, mungkin dua langkah lagi kaki itu akan tepat di hadapku. Dan tibalah sekarang sepatu itu tepat didepan sendalku, bahkan menyentuh ujung sendalku. Seketika badanku basah karena payung yang sedari tadi kupegang kini sautnya dan dilempar dibelakangnya. Mata ini yang sedari tadi terpejam langsung terbelalak seperti akan keluar.

“Apa benar ini lelaki misterius itu ?, kenapa diam saja ?, apa dia marah padaku ?, Tuhan , tolong aku, aku tak tahu harus bagaimana”. Aku semakin membeku.

“Kenapa kau disini ?”.

“Kau..kau bertanya?’, dengan suara yang terbata-bata aku menjawab.

“Lalu apa, kau pikir aku sedang bernyanyi !?”, ucapnya.

“Oh tidak, maaf. Hanya saja aku terkejut, aku tak sengaja lewat sini, sekali lagi maaf aku pergi dulu”. Jawabku dengan nada yang masih terbata-bata dan gerogi, seraya mengambil payungku. Namun payung itu telah digenggamannya seraya berkata “ kalau kau ingin payung ini silahkan kemari ketika hujan turun “. Aku benar-benar masih bingung dengannya, siapa sebenarnya dia dan dia itu makhluk apa. Please give me answer !.

      Aku memang ingin tahu siapa dia tapi disisi lain aku takut dengannya. Akankah esok hari turun hujan, jika esok turun hujan maka aku harus kembali ke tempat itu.

Tuk tuk tuk….           

     Suara itu membangunkanku, seolah tak tidur sermalaman dan pagi ini aku masih belum beranjak dari tempat tidurku, aku berusaha mencari-cari info cuaca, sore nanti turun hujan atau tidak. Dan alhasil perkiraan cuaca sore nanti akan turun hujan. Mengetahui hal itu aku makin tak karuan, beruntungnnya hari ini hari minggu, kalau tidak aku bisa saja akan bolos kuliah.

      Pukul 15:50 WIB . Waktu semakin sore, langit pun makin mendung saja. Dan byur bumi telah dibasahi air hujan, saatnya menuju jembatan itu. Sampainya disana tak ada seorang punyang terlihat. Jembatan itu besar dan gelap karena hujan sore ini. Rasanya ingin berlari menuju rumah tapi bagaimana dengan payungku, payung itu pemberian dari nenek dan sangat bersejarah bagiku. Takkan mungkin jatuh digenggaman orang tak kukenal. Apakah kau menungguku?, kata lelaki itu. Ee….eee.. aku tak menunggumu, aaaku hanya menunggu payungku kembali.

“apakah payungmu akan berjalan sendirinya tanpa menungguku ?”, lanjutnya.

“ya… maksudku begitu, sekarang kembalikan payungku, aku ingin pulang!”, ucapku. Seketika payung digenggamnya kini dilemparkan ke ujung jembatan. Ketika aku ingin mengambilnya tanganku tertarik tangannya. Aku benar-benar takut, apa yang akan dilakukannya, namun aku berusaha untuk tenang. Langsung aku membalikan badan.

“kau ini aneh, tiba-tiba kemari lalu mau menghilang begitu saja”, kata lelaki itu. Apa maksudnya ?

      Akupun masih terdiam. Melihat dia menengadahkan kepalanya keatas  menikmati derasnya air hujan. Akupun bertanya padanya. “mengapa kau selalu kemari seperti itu saat hujan turun?”, diapun tak langsung menjawab pertanyaanku , tak lama barulah ia bersuara.

“ya aku tahu selama ini kau selalu melihatku dari kejauhan sana, dan pada akhirnya kau beranikan diri untuk kemari menanyakan hal ini. Mungkin jika kau merasakan apa yang kurasa, pasti akan seperti ini juga” itu adalah jawabannya, kini aku terdiam dan terus mendengarkan ceritanya.

“aku seperti ini, itu karenanya, orang itu membuat hidupku lebih berwarna, lain halnya sekarang dia telah pulang selamanya dengan tenang, akupun tak bisa menolak semua kejadian itu, dia sangat menyukai hujan. Aku selalu kemari dengannya kala hujan turun. Menengadahkan kepala menikmati rasa yang indah ketika perlahan air silih berganti menetes di bumi ini serta mencium aroma tanah yang tercium kala hujan turun dan saat ini aku selalu kemari sendiri menikmati hujan”.

      Saat mendengar semua itu air mataku pun perlahan menetes berderai, bersahutan dengan air hujan yang mengalir dipipiku. Mulai dari situ aku mengerti alasan lelaki pengagum hujan tersebut, dan kini setiap hujan turun pun aku selalu kembali pada jembatan ini. Dia tak pernah melarangku untuk berdiri disampingnya, ada saatnya aku merasakan hal lain didalam hatiku, entah apa dan karena apa. Menurutku lelaki itu pengagum hujan yang sampai sekarang aku belum tahu namanya tapi aku merasa nyaman dengannya sepertinya dia orang yang setia.

      Sore ini aku kembali pada jembatan, namun dia belum atau mungkin dia takakan datang. Ketika aku beranjak pulang tiba-tiba dia datang, dia selalu membuatku kaget dan berkata “mengapa kau masih disini?”, aku yang masih bingung untuk menjawab sekedar senyum dan tetap terdiam saja. Anehnya dia tak menanyakan hal itu lagi.

Dia makhluk apa Tuhan? Kumohon agar dia mengerti, mengapa aku selalu kemari dan menemaninya. Bisakah lelaki berpayung hujan itu menjadi milikku?. Aku akan mengobati luka dan kerinduan yang di sisakan wanita penghuni syurga itu di saat ini dan sampai masa depan kala  maut memisahkan menghabiskan kuota usia kami berdua

Antara aku dan dia, si lelaki berpayung hujan.

Tamat…

Biodata penulis : penulis merupakan mahasiswi fkip prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Universitas Jambi. Berasal dari Sarolangun yang saat ini tinggal di Kemajuan. Objek kesukaannya adalah “ Hujan”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here