AWAL SEBUAH AKHIR

0
466


Malam itu, tepatnya pukul nol-nol kami akan berjalan tanpa adanya yang mengejari kami lagi. Bagiku ini adalah pengalaman yang kesekian kalinya. Ditinggalkan orang-orang yang aku sayangi saat aku jauh dari mereka. Jika kalian tanya bagaimana perasaanku, aku tak dapat menjelaskannya. Aku kembali kehilangan sosok panutan dalam hidupku. Dia juga pergi pada waktu yang tidak tepat. Dia pergi saat aku sibuj dengan ujianku. Menjadi sebuah pilihan yang berat bagiku, memilih antara pulang untuk melihat wajah itu terakhir kalinya atau aku tetap pulang setelah semua ujianku selesai. Konsekuensinya sederhana, aku tidak akan melihat wajah itu untuk terakhir kalinya.

Ternyata Tuhan masih baik pada diriku, setelah Dia mengambil sosok panutanku, Dia masih memberikan kesempatan untuk diriku melihat wajah itu. Ujianku ada yang diundur dan kesempatan ini kugunakan untuk pulang dan memberikan penghormatan terakhirku pada dirinya.

Setelah mempersiapkan pakaian-pakaian seadanya untuk kubawa pulang, mobil yang akan menghantarkan aku sampai di rumah.  Di perjalanan kuhabiskan dengan melamun. Mengingat-ingat kembali memori kebersamaan itu. Kembali terbayang dalam ingatan ini pengalaman dimana aku mengantarnya untuk melakukan chek-up.

***

Pukul tiga pagi aku sampai di pelataran rumah, tenda telah berdiri, panggung juga sudah berdiri. Aku disambut oleh ibuku.diantarnya aku masuk kedalam rumah. Diruang tengah, aku melihat sosoknya. Terbujur kaku diatas sebuah kasur. Sosok yang banyak mengajarkan aku akan apa arti hidup. Aku sedih, tapi aku tidak menagis. Aneh memang. Aku tidak seperti mereka yang terisak-isak. Kuhampiri tubuh yang telah kaku itu. Kupandangi wajah itu. Tidak banyak yang berubah. Hanya warna kulit itu yang sedikit pucat. Garis wajahnya juga masih terlihat jelas.

Duduk disebalahnya dan memanjatkan doa, mungkin ini satu-satunya yang bisa aku lakukan untuknya. Kembali lagi kupandangani wajahnya dengan muka tanpa ekspresi. Aku memang seperti itu, aku tidak dapat menunjukkan wajah sedihku, tapi hati ini sudah menangis.

Kuhampiri ibuku yang duduk di depan pintu kamarku dulu. Kutanyakan kapan akan dimakamkan. Ibu menjawab nanti jam empat sore. Ibu juga bertanya kepadaku apakah aku sudah makan. Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala. Aku meminta izin kepada ibuku untuk berisitirahat. Lelah sekali. Aku butuh energy untuk nanti pagi saat acara adat dimulai. Aku ingat saat nenek meninggal dulu, betapa letihnya raga ini. Seharian kami menari. Sebagai cucu pertama, aku akan banyak menari tor-tor. Jika hanya menari saja tidak masalah bagiku. Ini juga sambil menggendong tanaman yang akan di tanam di makam kakekku. [P1] 

***[P2] 

Acara adat sudah selesai kini, tinggal menuju pemakaman. Setelah dimasukkan kedalam mobil, kami beranjak menuju pemakaman. Disana sudah banyak orang yang menanti. Setelah semua siap, peti dikeluarkan dari mobil, kemudian dimasukkan kedalam liang dengan menggunakan tali. Disinilah tangisku pecah. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan sedih ini. Dengan mata rabun akibat tertutup oleh air mata, aku melihat perlahan-lahan peti itu hilang tertimbun oleh tanah hingga akhirnya tidak nampak lagi. Tanaman yang kugendong tadi kemudian ditanam diatas pusaran kakek. Perlahan-lahan orang-orang mulai meninggakan pemakaman,hingga tinggal kami yang tersisa.

Adik dari kakekku memberikan nasehatnya kepada kami. Dia mengatakan bahwa ini bukan akhir dari semua, namun ini adalah awal dari segalanya. Kami akan berjalan sendiri, kami yang akan meneruskan segala perbuatan baikyang telah dilakuakan beliau. Kami sekeluarga harus solid, karna tidak ada lagi yang senatiasa mengingatkan kami. Dan bagiku ini merupakan tantangan yang harus aku hadapi, menjadi sukses seperti yang pernah dipesankan kakek dan nenek semasa hidup meraka.

Ada satu lagi yang belum aku ceritakan. Kata keluargaku, aku sangat mirip dengan almarhum kakeku. Mulai dari cara aku berbicara, cara aku duduk, saat aku tertawa hingga wajah yang mirip dengan dia. Ditambah lagi dengan tahi lalat yang banyak nempel diwajah ini menjadikan aku semakin mirip dengan dia. Tentu ini menjadi anugrah bagiku. Aku bisa membantu meraka untuk melepas rindu dengan sosok kakek lewat wajahku.


 [P1]Bagian ini menarik untuk dijadikan ide cerita sehingga judul bisa diganti dengan ‘Tor-Tor Untuknya’

 [P2]Tata kembali alur cerita agar menjadi lebih menarik. Bisa dimulai dari bagian ini.

Rizki Yones Saputra merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jambi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here