RUMAH PANGGUNG TUA PENINGGALAN ARAB MELAYU JAMBI

0
1237
Gambar Rumah Panggung Tua Peninggalan Arab Melayu Jambi

Pagi hari yang cerah ditemani rintik-rintik hujan seakan mengiringi perjalanan kami menyusuri sudut Kota Jambi kala itu. Beberapa menit berkendara kami memutuskan untuk singgah di Gentala Arasy salah satu ikon kebanggaan kota Jambi. Berjalan melintasi jembatan yang terbentang di atas aliran sungai Batanghari ini kurang lebih 15 menit, sampai akhirnnya sampailah dikawasan Jambi Kota Seberang, sebuah desa yang biasa disebut kelurahan Arab Melayu. Di daerah seberang masih banyak terdapat rumah-rumah panggung, dari yang klasik hingga modern. Bahan yang digunakan juga berbeda beda dari kayu dan dari batu bata.

Di tengah perjalanan menyusuri kota seberang, pandangan kami tertuju pada salah satu rumah tua yang masih kokoh di ujung gentala Arasy, karena rasa penasaran kamipun meminta kepada salah satu warga yang meningkatkan hubungan keluarga dengan penghuni rumah ini, itu disebut bapak Said Abdullah.
“Assalamu’alaikum, pak”. Gunakan kami untuk pak Abdullah yang sedang duduk santai di depan Rumah.

“Wa’alaikumsalam, ado apo nak? Ado yang biso sayo bantu? jawab pak Abdullah dengan ramah menyambut kami.
” Jadi pak gini, kato kawan kami bapak salah satu tokoh masyarakat yang cukup banyak tau tentang kelurahan Arab Melayu ini, nah kami nak betanyo tentang rumah panggung tuo yang ado di ujung gentala tu dengan bapak, mungkin bapak tau sedikit cerito tentang rumah tu “.
” Oh yo, sukses rumah tu ditunggu oleh kakak sayo deweklah. Kalo untuk cerito rumah tu sayo masih ingatlah dikit-dikit tapi dak pulak jadi soalnya sayo baru bisa sembuh dari sakit struk beberapo ribuan ni ”.
“Sedikit masalah, sedikit kami tau sedikit tentang rumah tu jadi la”. Jawab kami sambil tersenyum.

Lalu kami diajak langsung oleh pak Abdullah untuk mengunjungi rumah panggung tua itu. Dengan antusias dan rasa gembira kami memulai langkah demi langkah Pak Abdullah yang membuka halaman rumah panggung tersebut. Sesampainya kami didepan rumah, kamipun diserahkan oleh perempuan juga pemilik rumah yang disebut Ibu Syarif Seha.

Rumah panggung ini adalah salah satu rumah tua yang ada di Seberang Kota Jambi. Konon rumah panggung mulai tanggal 22 jumadil awal tahun 1333 H hari ahad. Dahulu rumah tua ini ditempati oleh seorang habib, Habib Husein bin Baragbah namanya. Dia datang ke Jambi pada tahun 1139 dan mewakili orang yang datang pertama kali ke kelurahan Arab Melayu untuk agama di wilayah tersebut. Rumah ini telah ditempati hingga generasi selanjutnya. Rumah ini juga menyediakan biaya perbaikan oleh pemerintah Kota Jambi sekitar tahun 2014. Renovasi yang dilakukan oleh pemerintah menyediakan, tiang penyangga rumah panggung yang sudah lapuk, dan memeriksa rumah bangunan itu. Menurut pak Abdullah tiang yang diganti tersebut kurang lebih 20 tiang,

“Rumah ni jugo pernah diperbaiki oleh pemerintah kota jambi, beberapo tahun yang lalu, nak.” Gunakan ibu Seha untuk kami sembari melihat-lihat ukiran yang ada di setiap dinding rumah.
“Ohhh, kira-kira tahun berapa ya bu waktu pelaksanaan renovasi rumah ini?” Tanya kami yang lebih penasaran dengan rumah panggung tua ini.
“Kiro-kiro tahun 2014 nak kalau dak salah, ibu jugo agak lupo maklumlah nak ibu ko lah tuo,” jawab ibu Seha sambil tersenyum sipu kepada kami.

Memasuki rumah tua itu, pak Abdullah mulai menjelaskan satu persatu setiap sudutnya. Langkah kamipun terhenti di ruang depan yang disebut serambi rumah atau masyarakat modern yang disebut ruang tamu. Disisi kiri dan kanan ruangan serambi ini tersedia dua kamar tidur.

“Nah kalo kamar sebelah kiri ko yang nempati anak jantan yang belum menikah, kareno biasony bujangan tu kan sering main keluar kadang kala baleknyo malam, jadi biak dak ganggu orang tuo yang sudah rusak. Kalo kamar yang tepat tu bias ditempati dengan anak perempuan yang sudah menikah ”. Pak Abdullah menjelaskan kepada kami.

Setelah cukup lama berbincang, kami diajak oleh Pak Abdullah dan ibu Seha ke bagian tengah, biasa disebut tengah rumah atau ruang keluarga. Pada ruang itu mata kami langsung terkagum dengan hiasan corak yang menambah kesan estetik rumah itu. Di ruang tengah ini ada dua kamar yang biasanya ditempati oleh orang tua atau kepala keluarga. Diantara kamar yang ada satu meja yang ukurannya pendek, yang di zaman dulu digunakan untuk pelaminan, yang sekarang digunakan untuk barang-barang seperti TV, Guci-guci, dan barang lainnya.

Perbedaan dari setiap kamar dapat dilihat dari ukurannya, untuk kamar anak yang belum menikah ukurannya lebih kecil sedangkan untuk anak sudah menikah dan orang tua ukurannya butuh lebih besar.

Dari ruang tengah, kamipun beranjak ke dalam ruangan berikutnya yaitu ruang makan atau biasa disebut laren. Di kamar ini ada satu kamar yang biasa ditempati oleh anak perempuan yang belum menikah atau anak perempuan, karena anak perempuan dijaga agar tidak terjerumus pada pergaulan yang salah dan agar tetap bisa disesuaikan anak perempuan yang ada dirumah ini. Dan ruangan terakhir yang ada dirumah ini disebut garang yang ada bisa disediakan dapur untuk tempat memasak dan juga WC.

Setelah banyak bertanya-tanya dan melihat-lihat isi rumah, kami kembali ke sisi depan rumah yang biasa disebut kaki limo atau teras. Lalu mata kami tertuju pada kolam kecil yang didepan rumah itu.
”Nah pak buk, kalau kolam itu untuk ikan yo? Tanya kami sedikit penasaran ”.
“Oh, kalo kolam tu dulu di pakek untuk ambil air wudhu, biasonya ado tamu sahabat habib pado jaman dulu kalo nak sholat yo disitulah ngambek wudhunyo, kareno jaman dulu disiko masjid jauh dari rumah”. Jawab ibu Seha.

Tetes hujan mulai tak terlihat, kamipun mulai perbincangan di teras rumah panggung bu Seha karena matahari juga mulai memancarkan cahayanya kembali. Setelah berpamitan, jangan lupa kami juga meminta ucapan terima kasih kepada dia karena telah meminta kami melihat-lihat rumah panggungg itu, karena terima kasih mereka juga menerima kami tentang rumah panggung tua bertambah.

 

Penulis: melly dan nur

Redaktur: Fitri Wulan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here