Remah Gerahnya Juang

0
281

Karya : Putri Arum Lestari

Semerbak harum bunga di taman itu mewangi bagai rindu yang tengah berkuasa diatas pemikiran gila yang Ulina alami sewaktu lalu. Bangkitlah pekerjaanmu masih banyak disini, Ulina beranjak dari kursi tempat lamunannya. Menatap ponsel yang biasa sibuk dengan grup whatsApp kini sepi sunyi tak perpenghuni. Derak langkah terdengar dari kejauhan murid ajarannya selesai belajar hari itu.
Pengharapan tak bermakna itu kembali menyelimuti pikiran ulina kembali, jutaan tenaga ia berikan tak bermakna apa-apa dimatanya, laki-laki sosok pemimpin itu. Kata-katanya terlalu menggiurkan rasa, mengundang selera siapapun yang mendengarnya. Bagai tiada rintangan didalam sana. Deru tangis berarti apa-apa.
Adzan berkumandang serta kokok ayam jantan menandakan subuh hari tiba, seperti biasa Ulina menjalankan Sholat subuh. Berpakaian rapi tiada yang menandingi, asrinya desa itu masih sangat khas dengan segarnya pagi hari serta kicauan burung gereja. Perjalanan menuju sekolah pagi itu didampingi rasa gembira, meski jarak dari tempat tinggal menuju sekolah puluhan kilo meter tanpa ada pohon pelindung sedikit pun gersang akibat pembabatan hutan yang bertanggung jawab, berbeda dengan tempat yang ia huni masih terjaga dengan asrinya.
***
Menatap kerinduan yang telah lama kepada tempat tinggalnya, Amanah itu ia jalankan dengan seksama. Senja sore itu mampu menggelitik perasaannya kepada sedikit penyesalan sebab hal berkaitan dengan harap. Ah sudahlah, desahnya dengan kekesalan yang nyata beranjak masuk ke dalam rumah. Teras rumah itu berkesan sekali dengan kursi yang penuh ukiran sakral bermakna pada tempat itu. Sang tuan rumah melukisnya dengan sedemikian rupa agar memberikan kesan kepada siapapun yang pernah menyinggahinya. Pantas saja ia mampu membuatnya dengan sedemikian rupa, karena yang ditempati adalah kepala suku daerah itu.
Malam semakin mencekam sunyinya mulai merasuk kedalam hati yang bukan pemberani, tikus-tikus di atap rumah itu mulai beraksi membuat Ulina semakin kesal karena pekerjaannya malam ini belum juga terselesaikan. Terkantuk dan tertidur didepan laptop satu-satunya yang ia punya adalah hal biasa karena terlalu banyak project yang diamanahkan untuk seorang Ulina yang pernah menjadi mahasiswa aktif di Kampusnya.
Menjadi seorang yang dibutuh kan siapapun adalah idaman seorang Ulina, bahkah hampir semua kesempatan yang diberikan ia ambil tapi hal tersebut tak pernah membuatnya keteteran terhadap tangguh jawab. Itu menandakan bahwa Ulina adalah wanita tangguh nan idaman. Tak peduli dimana pun ia berada ia selalu terlihat sibuk itulah yang membuat yakin atasannya untuk memberi amanah yang bisa dikatakan tidak masuk akal tapi Ulina tetap menerimanya. Meski setiap hal yang diambil tak selalu mulus dan tetap selalu terbentur. Bertahan dan bertahan itulah sifat yang bisa ia hindarkan dari dirinya, memang terlahir tangguh hatinya, penyabar, berbudi pekerti. Tapi ia hanya seorang pengajar yang di amanahkan oleh Atasannya.
Hidup di atas asa yang tinggi itu tidaklah mudah, debur ombak di pantai itu mampu memecahkan karang berderak parau tak terhingga. Perasaan yang awalnya baik-baik saja mampu mencabik arti kedamaian hakiki didalam dirinya, meski debur ombak itu tidak sampai kepadanya, tapi rasa ini menggangguku kembali. Terduduk santai didepan api unggun di Pantai itu, mampu menghangatkan raganya tapi tidak dengan jiwa yang sudah terlalu kukuh dengan pendirian untuk tak kembali pulang. Sebab amanah itu menurutnya tak berarti apa-apa kepadanya. Ting-ting-ting-tringgg dering telpon di sakunya berbunyi dengan kuatnya menghela waktu diantara kesibukannya. Suara itu terdengar lagi diponselnya, sebab malam ini ia kepantai hanya untuk mendengar ocehan bermakna dari seorang penguat berjasanya itu. Sosok pelindung dan penyemangat dirinya terhadap segala yang Ulina lalui disana.
Jakarta-Kalimantan bukanlah jarak yang dekat pada waktu itu, bukit terjal, turunan berkerikil tajam telah ia lalui disana. Untuk kembali pulang saja saat Ramadhan bukanlah hal yang mudah untuk seorang Ulina. Tapi ia tetap saja kembali ke sana lagi, meski orang tuanya telah melarangnya.

***
Terik matahari di siang itu, mampu membakar kulit Ulina hari ini ia hari pulang dari sekolah bersama anak didiknya karena hari ini ia pulang sore. Sekolah yang terurus itu, sebentar lagi akan ia tinggalkan sebab amah yang ia jalankan hampir selesai di Desa permai itu. Mengajar sebenarnya adalah hal sambilan yang di lakukan Ulina di samping ia menjalankan amanahnya.
Semakin terlihat saja makna amanah itu tak lagi di hiraukan oleh atasannya. Padahal ia telah menjalankan dengan ikhlasnya. Ingin rasa keluar dari zona itu, tapi pemikiran-pemikiran tak bermaknanya selalu saja menghantuinya untuk terus menjalankannya.
Hampir semua awalan terlihat baik-baik saja dan penuh dukungan tapi saat telah di tengah jalan hampir saja kandas oleh surutnya perhatian. Ketidak adilan itu menyapa benaknya untuk mengungkap sebuah peristiwa buruk itu. Beberapa waktu lalu ia hampir menyerah terhadap apa yang terjadi. Merasa di anak tirikan adalah sebuah hal biasa di dalam sebuah amanah tersebut.
Senja sore itu mampu mengundang kerinduannya kembali kepada keluarganya, matahari redup dengan keemasannya sore itu terlihat indah sekali. Sengaja ia ke Pantai itu untuk mengabarkan bahwa ia esok akan pulang. Hari Raya tinggal sebentar lagi, pasti bis-bis akan penuh dengan penumpangnya karena waktunya arus mudik. Ah, kesal sekali aku, desahnya. Sebab uang perjalanan pulang bulan ini tak kunjung cair sedangkan ia telah terlalu merindukan kampung halaman dan opor buatan ibundanya. Tatapannya kepada senja terakhir sore itu menggerus makna sebuah ketidak adilan yang menimpanya. Kenangan demi kenangan telah terukir di desa nan asri di sini. Hmm, aku pasti akan merindukannya suasana Desa permai penuh kenangan ini. Rasa kesal dan jeritan bermakna di hatinya redup bersama senja dengan keemasannya sore itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here