Secarik Kertas untuk Tuhan

Pandemi, satu kata yang baru kukenal sejak setahun yang lalu. Aku mengetahui makna pandemi itu sendiri dan ikut merasakan arti dari sebuah kata dari pendemi. Wabah yang berjangkit serentak di mana-mana. Tak kusangka akan merajalela menelusuri seluruh penjuru negeri. Cerita ini bak sebuah dongeng menakutkan dari sebuah halaman di buku cerita yang pernah kubaca. Judulnya Secercah Harapan untuk Tuhan.

Awalnya aku merasakan semua kelumpuhan ini bermula dari sebuah mimpi buruk yang datang melanda negeri ini. kehangatan itu tak lagi kurasa, tak lagi ku ingat kisah dimana aku bisa bebas merasakan kebahagiaan bersama orang-orang terkasih dan bagaimana bisa aku menghirup udara semauku tanpa terhambat oleh sehelai kain menutup mulut dan hidungku.

“kringggggg…kringgg” (alarm berbunyi)

“Tiur…Tiurr… bangun nak sekarang sudah waktunya bangun, kamu harus ke sekolah hari ini,” ujar Ibu membangunkan ku.

“iya Ibu, ini Tiur bangun,” jawab Tiur.

Ini hari pertama dimana aku memulai kegiatan di sekolah baruku, aku baru saja pindah ke kota ini seminggu yang lalu. Tiur, itulah namaku yang diberikan oleh almarhum ayah yang sudah meninggalkan aku dan Ibu 4 tahun yang lalu. Kini aku tinggal bersama Ibu di kota yang baru aku kunjungi, yaitu Jambi. Aku harus bisa membiasakan diri dan berbaur dengan orang-orang yang ada di kota ini. Sebelumnya aku lahir di kota Pekanbaru, Riau. Tempat semua keluargaku berkumpul. Namun, aku harus ikut Ibu ke Kota Jambi karena ada suatu pekerjaan yang mengharuskannya pindah ke kota ini.

“Sarapannya sudah Ibu siapkan di meja ya nak, Ibu berangkat kerja dulu,” kata Ibu sambil mengeluarkan motornya.

“iya bu, Hati-hati dijalan ya bu.”

“ iya nak kamu juga hati-hati.”

Ibu mengendarai motornya karena lokasi kerja cukup jauh, sedangkan aku hanya berjalan kaki karena jarak sekolah ke rumah cukup dekat.

Aku bersekolah di SMP 1 Kota Jambi dan kini duduk dikelas 9. Tak kusangka ternyata teman-teman menyapaku dengan hangat. Aku merasa bahwa aku akan betah sekolah disini. Tak hanya teman, guru-gurunya pun juga menyambutku dengan hangat. Untuk lebih mengenal suasana dan interaksi dengan teman-teman, aku mengikuti beberapa organisasi kesiswaan yang ada di sekolah dan aku sangat menikmatinya.

“Baiklah aku akan bahagia disini,” ujarku dalam hati.

“Tiur…”

Aku mendengar seseorang memanggil namaku dari bilik kantin, lalu aku menuju sumber suara dimana namaku dipanggil.

“Apakah kamu yang memanggilku tadi?” tanyaku pada siswi yang duduk di bangku dekat kantin dan sedang seorang diri.”

“Iya, kenalin aku Tania teman sekelasmu.” ia menjulurkan tangannya.

“Namaku Tiur Ananta, ya kamu sudah memang seharusnya memanggilku Tiur,” ujarku kepada Tania sambil bercanda.

“HAHA iya aku sudah tau, kursimu kan dibelakang tempat duduk ku dikelas.”

“iyaa, maaf baru mengenalmu sekarang.”

“iya ngak papa kok.”

Kami berbincang cukup hangat sembari menyantap semangkuk bakso. Obrolan itu pun berlanjut dan kami merasa bahwa kami sudah cukup akrab. Tania sangat baik padaku, ia selalu memberiku pertolongan dan selalu ada disaat aku membutuhkan. Begitu pun aku, aku berusaha menjadi sahabat terbaik untuk Tania.

Hari pertama telah kulalui di sekolah baru, aku bersyukur karena Tuhan menganugrahkan aku orang-orang terdekat yang selalu baik padaku. Hari ini sepulang sekolah aku akan mampir kerumah Tania, ia mengajak ku makan bersama di rumahnya.

Keluarga Tania cukup berada, ayahnya seorang dokter dan ibunya seorang guru. Selain itu dia juga merupakan anak satu-satunya dalam keluarga itu. Tania sangat dimanja oleh orang tuanya, semua kemauannya selalu dipenuhi. Hal tersebut membuatku teringat pada sosok Ayah yang selalu memberikan apapun agar aku senang. Namun, semua hanya tinggal kenangan. Ayah meninggal karena serangan jantung dan hal tersebut membuat aku dan Ibu sangat terpukul. Seiring berjalannya waktu kami mulai terbiasa dan pelan-pelan mengikhlaskan sosok ayah yang seharusnya menafkahi dan menjaga aku dan Ibu.

“Eh ada temennya Tania, ayo masuk tente sudah siapkan makanan untuk kalian, kalian pasti sudah lapar kan?” sapa mama Tania kepada kami yang baru tiba di rumah Tania.

“Iya tante,” kata ku sambil membuka sepatu.

Aku dan Tania makan di depan tv. Saat itu kami menonton berita di TV tentang kasus virus corona yang mulai masuk ke Indonesia dan sudah menyebar di pulau Jawa. Akupun tertegun mendengar berita itu, tak kusangka berita di awal dulu memberitakan bahwa virus tersebut hanya ada di kota Wuhan Cina kini sudah masuk ke negeri tercinta.

Makanku sudah tidak nafsu lagi, namun aku bergegas menghabiskan sisa makanan dipiring. Sehabis makan kami mengerjakan tugas sebentar dan setelah itu aku langsung pulang.

“Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumussalam,” jawab Ibu sambil menonton TV.

“Loh kok Ibu cepat pulang hari ini?”

“Iya tadi Ibu dapat kabar dari pamanmu di Pekanbaru kalau Bibi sudah meninggal”

Aku pun terkejut mendengar berita itu.

“Memang bibi sakit apa bu? Bukannya minggu lalu mereka ikut mengantar kita ke Jambi? Kenapa mendadak sekali? Apa bibi sakit bu?” tanyaku bertubi-tubi kepada Ibu.

“Ibu juga kurang tahu nak, kata dokter bibi terindikasi virus covid-19,” ujar Ibu yang juga kebingungan.

“Covid? Bukannya hanya di pulau Jawa saja ya bu?” tanyaku lagi pada Ibu.

“Virus corona itu sangat cepat sekali menyebar nak, makanya kita harus hati-hati dan selalu jaga kesehatan kapan pun dan dimana pun” kata Ibu sambil menyuruhku duduk di sampingnya.

Corona memang sudah tidak main-main, banyak korban yag berjatuhan karena virus ini. Salah satunya ayah Tania yang juga ikut gugur dalam menangani pasien covid dirumah sakitnya. Tania sangat terpukul atas meninggalnya ayahnya secepat itu. Corona sudah sangat menyebar, termasuk di Jambi. Kami yang semula sekolah seperti biasa kini harus merasakan akibat dari datangnya virus ini yakni diliburkan dan beralih ke pembelajaran daring. Hal tersebut membuat kami semua merasa lumpuh.

Banyak orang-orang terkasih yang pergi karena terserang virus ini. Aku mulai menyadari bahwa pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan saat ini. Sedih, gelisah, takut semua bercampur aduk menjadi satu. Aku takut kehilangan seseorang yang aku sayangi untuk kesekian kalinya. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar selalu dilindungi dan dijaga dari segala mala petaka.

“Ibu.. hari ni Tiur libur dan minggu depan kami akan sekolah secara daring,” kata ku sambil keluar kamar.

“kenapa begitu nak,” tanya Ibu sambil memotong sosis untuk membuat nasi goreng.

“Semua karena virus corona bu, untuk memutus mata rantai penyebaran virus maka kami melakukan pembelajaran daring untuk sementara.”

“Baiklah kalau begitu kamu jaga rumah, Ibu mau berangkat kerja dulu. Nasi gorengnya sudah siap di meja nak.” (Ibu langsung pergi untuk bekerja).

Pikiranku sangat tidak tenang, Ibu yang bekerja untuk membiayai kehidupan harus bertaruh dengan jahatnya virus corona diluar sana. Pikiranku kacau tak karuan, bagaimana kalau Ibu akan pergi meninggalkan ku sama seperti kasus ayah Tania yang gugur karena terpapar virus ini. sungguh tak dapat aku bayangkan jika hal tersebut benar-benar terjadi.

Hari pun berlalu sangat cepat, hari ini Ibu agak telat pulang karena lembur. Pekerjaannya benar-benar menumpuk dan membuat aku merasa kasihan dan memikirkan bagaimana kondisi kesehatannya saat ini.

“Assalamualaikum,” ucap Ibu masuk ke rumah dalam keadaan lemas dan penuh keletihan.

“Waalaikumussalam, bagaimana bu sudah selesai pekerjaannya hari ini?” ujar ku sambil menyuguhkan teh hangat untuk Ibu.

“Lumayan nak, badan Ibu terasa sangat lelah, badan Ibu agak sedikit meriang dan tenggorokan Ibu sakit.”

Aku terdiam, karena gejala penderita covid-19 hampir sama dengan apa yang Ibu alami saat ini. Semoga apa yang aku bayangkan tidak benar-benar terjadi pada Ibu.

Keesokan harinya, aku memaksa Ibu untuk tidak bekerja dulu karena akan membawa Ibu ke klinik untuk berobat. Setelah di cek ketakutan itu pun benar-benar terjadi. Ibu terpapar covid-19 dan hal itu membuat ku sangat sedih dan kacau. Ibu yang selama ini selalu menemani ku harus di karantina selama beberapa hari. Kesedihan dan ketakutan datang bertubi-tubi pada ku.

Lima hari berselang, kondisi Ibu tak kunjung membaik. Aku sangat bingung harus melakukan apa. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah tak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan agar Ibu di sehatkan kembali seperti sedia kala.

“Kringgg.. kringgg… kringgg…” (suara telpon berbunyi.)

“Hallo.. Siapa ini?”

“Apa benar ini dengan saudari Tiur?”

“Iya benar, ada apa ya?”

“Kami dari pihak rumah sakit Bhayangkara ingin mengabari saudari bahwa Ibu saudari sudah meninggal dunia”

Genggaman telpon itu sentak terjatuh dalam genggamanku. Ingin rasanya ku menjerit dan mengakhiri hidup setelah mendengar kabar kepergian sosok Ibu yang selama ini menemaniku dalam keadaan apapun. Tak sanggup aku merajut perjalanan hidup ini sendirian. Aku telah kehilangan sosok ayah dan kini aku harus menanggung derita untuk kehilangan sesosok Ibu yang sangat berperan penting dalam hidup ku. Hatiku sakit dan kacau bak tersayat samurai tajam menusuk jantungku.

“Baiklah sus, saya akan kesana sekarang” jawabku sambil menahan tangis dalam-dalam.

Akupun ke rumah sakit dan saat itu ditemani seorang ojek yang siap mengantarku.

Sesampai di sana, aku tak dapat melihat jasad Ibu untuk terakhir kalinya karena sudah tertutupi kain dan sebuah peti.

Aku ingin marah pada Tuhan, mengapa ia begitu jahat padaku? Apa salahku? Bagaimana aku sekarang?

Aku benar-benar tak tentu arah, tangisan dan jeritan itu sudah tak terdengar saking sakitnya hatiku.

“Apa tak ada lagi secercah harapan itu Tuhaaaannn,” jeritku saat melihat peti mati Ibu.

Secarik surat ini akan kusampaikan pada Tuhan.

Tuhan

Aku ingin menyerah

Pada setiap harap

Pada setiap ikhlas

Kini siangku tak terang lagi

Malamku telah kehilangan bintangnya

Lalu apa aku juga harus punah?

Sungguh aku resah atas hidupku

Ingin berhenti tapi takut akan merugi

Ingin berjuang tapi tak sanggup berjalan…

Tuhan, kumohon bantu aku bangkit dari mimpi buruk ini.

Oleh: Ketty Yuska Almadani

(VN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here