Negeri Jam Karet

Semburat cahaya menerpa wajahku. Silaunya mentari membuat mataku terpicing. Perlahan aku membuka mata dan mengedarkan pandangan kesekitar. Dan, hei! Mengapa semua makhluk di sini berbentuk bulat dan kotak? Mengapa mereka terlihat seperti jam di duniaku? Mengapa semua bangunan di sini berbentuk kubus? Belum selesai rasa heranku, seseorang datang menepuk pundakku. Aku membalikkan badan. Dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati sesosok makhluk berbentuk kotak.

“Siapakah gerangan yang telah mengutusmu kemari wahai anak muda?” ucap makhluk berbentuk kotak itu.

Makhluk ini bisa berbicara? Dia berbicara padaku? Dan kenapa aku mengerti bahasa yang ia gunakan? Aku menampar diri sendiri. Aduh, sakit. Ternyata ini sungguh nyata. Mataku menyapu sekitar. Lalu kuhentikan pandangan tepat di hadapan makhluk kotak ini.

“Aku berasal dari negeri antah berantah, tuan. Dan tidak ada yang mengutusku untuk datang kemari.”

Aku masih terus mengedarkan pandangan kesegala penjuru. Metropolis yang khas. Belum pernah aku menjumpai dunia seperti ini.

“Kalau begitu, bagaimana kamu bisa datang kemari? Tempat ini sudah lama tidak kehadiran tamu sejak tetua menutup akses dunia luar ke tempat ini.”

Aku menggelengkan kepala. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya bisa sampai di tempat ini.

“Ikuti aku.”

Makhluk berbentuk kotak itu melangkah menuju suatu bangunan yang berbentuk kubus. Aku memutuskan untuk membuntutinya sembari mengamati situasi. Aku menyusun rencana jika makhluk ini berniat jahat padaku. Aku tercengang ketika melihat isi bangunan berbentuk kubus ini. Ternyata isi bangunan ini tidak berbeda jauh dengan bangunan yang ada di duniaku. Aku masih bisa mengenali beberapa benda-benda di sini.

“Aku sampai lupa mengenalkan diri padamu, Nak. Kamu bisa memanggilku Patik. Sebentar.” Makhluk kotak itu berjalan menuju sebuah benda berbentuk persegi panjang dengan tumpukan kertas. Ia membongkar semua tumpukan kertas, seperti sedang mencari sesuatu yang amat penting.

“Ini adalah buku yang masih menyimpan tentang cerita-cerita kuno mengenai pintu-pintu rahasia yang bisa terhubung ke dunia kami.”

Sekelebat bayangan hitam muncul di tengah ruangan. Aku terkesiap saat bayangan itu melewatiku yang tengah berdiri mengamati ruangan ini.

“Siapa dia, Patik? Mengapa dia ada di rumah kita? Aku kan sudah bilang padamu untuk tidak sembarangan membawa orang masuk ke rumah kita. Kenapa kamu malah melanggar perkataanku, heh!”

Rupanya bayangan tadi itu makhluk berbentuk kotak juga. Dari nadanya berbicara, sepertinya ia tidak senang dengan kehadiranku di rumahnya.

“Jangan naik pitam, Adun. Aku sengaja membawanya ke rumah kita karena tadi aku menemukannya didekat pohon jam. Lihatlah! Dia seorang manusia. Dia masuk ke dunia kita, sepertinya dia tersesat, jadi aku memutuskan untuk membawanya ke rumah kita,” Patik berusaha menjelaskan maksudnya kepada istrinya.

Makhluk kotak yang baru tiba di ruangan mengamatiku dari kepala sampai kaki. Lalu mendengus kesal.

“Mau apa kau kemari, hah?” tanya Adun dengan nada ketus.

“Eh? Aku hanya tersesat di dunia ini. Aku tidak berniat jahat. Sungguh,” ujarku berusaha meyakinkan Andun.

“Tapi aku tidak akan semudah itu percaya padamu, seratus tahun lalu juga ada manusia sepertimu yang datang ke dunia kami. Awalnya kami menyambut dia dengan baik. Tapi apa yang dia lakukan pada negeri kami? Dia berusaha mempengaruhi penduduk untuk mengikuti omong kosongnya itu. Dan kekacauan terjadi di mana-mana,” ucap Adun dengan menggebu.

Eh? Kenapa jadi seperti ini? Aku meneguk ludah. Masih mencerna maksud dari Adun.

“Tapi itu kan seratus tahun yang lalu, Adun. Bisa saja anak ini berbeda dari pemuda seratus tahun yang lalu,” ujar Patik berusaha membelaku.

“Terserah kau sajalah, Patik. Aku malas berdebat denganmu. Kalau ternyata dia ini sama saja dengan pemuda seratus tahun yang lalu, jangan libatkan aku dalam urusan itu,” ujar Adun seraya meninggalkan ruangan.

“Jangan dimasukkan kehati, Nak. Istriku memang seperti itu. Selalu saja bersikap tidak ramah terhadap tamu.”

“Bagiku itu tidak masalah, Patik. Aku mengerti, aku masuk ke rumah ini tanpa sepengetahuannya dan tentunya ia marah padaku karena hal itu.”

“Syukurlah kalau begitu. Nah, aku yakin kamu membutuhkan tempat untuk beristirahat. Mari, akan aku tunjukkan tempat untukmu melepas lelah,” ujar Patik.

“Eh? Patik mengijinkan aku menginap di sini? Bukankah Adun tidak senang dengan kehadiranku?” ujarku keheranan.

“Tentu saja aku mengijinkanmu menginap di sini. Lagi pula rumahku ini sudah lama tidak kedatangan tamu jauh sepertimu,” ujar Patik seraya tersenyum padaku.

Kejadian hari ini cepat sekali berlalu. Keesokan harinya aku berusaha untuk beradaptasi dengan penduduk sekitar.

“Kenapa masih sepi sekali? Bukannya ini sudah pagi?” gumamku keheranan.

Aku memutuskan untuk memeriksa setiap sudut ruangan di rumah Patik. Aku melihat keluar jendela. Aneh sekali, kenapa di pagi hari seperti ini tidak terlihat aktivitas penduduk? Padahal matahari sudah naik sepenggalah. Setelah puas menyusuri hampir seluruh ruangan, aku pun mencari makanan dan minuman yang ada di rumah ini. Ketika aku sampai di sebuah ruangan, aku menemukan Adun sedang duduk memainkan benda, ia terlihat asyik sekali sampai-sampai tidak menyadari keberadaanku.

“Permisi, Adun. Bolehkah aku duduk di sini?” ujarku seramah mungkin.

Adun tampak sedikit terkejut melihat kehadiranku di ruangan itu. Lalu Adun hanya mengangguk sekilas dan kembali fokus pada benda ditangannya.

“Adun sedang apa?” ujarku basa-basi.

“Kau tidak bisa lihat? Tentu saja aku sedang memainkan benda ini.”

“Kenapa Adun dan Patik belum memulai aktivitas?” tanyaku hati-hati.

Adun menatapku dengan tajam. “Itu bukan urusanmu anak muda. Lagi pula kami terbiasa menikmati hari, tidak perlu terburu-buru harus segera beraktivitas.”

“Tapi memulai aktivitas sedari pagi itu kan bagus. Kita jadi punya banyak waktu untuk melakukan berbagai kegiatan, serta bisa membuat kita menjadi lebih produktif,” ujarku mengungkapkan pendapat.

“Kalau soal kegiatan itu kan bisa dilaksanakan nanti-nanti. Kalau ada hari esok, kenapa harus hari ini? Kalau bisa dikerjakan nanti, kenapa harus sekarang?”

Aku mengernyitkan dahi. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Adun. “Prinsip macam apa itu? Bukankah kita harus segera mengerjakan sesuatu agar tidak menumpuk?” gumamku.

“Apa kau bilang? Kau mengejek prinsip yang kuanut? Beraninya kau mengejekku!” ujar Adun seraya menggebrak meja.

Eh? Dia mendengar apa yang kukatakan? Bukankah tadi aku hanya bergumam dalam hati? “Aku tidak bermaksud mengejekmu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa tidak baik apabila kita mengawali hari dengan berleha-leha,” sanggahku.

“Tutup mulutmu! Omong kosong macam apa yang kau katakan tadi itu, heh!”

Aku menggelengkan kepala. “Apa yang kukatakan tadi itu bukanlah omong kosong, Adun. Di negeriku, semua penduduk memulai aktivitas di pagi hari. Bahkan anak-anak kecil pun sudah terbiasa bangun pagi. Para ibu-ibu juga sedari pagi sudah bangun menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Pemandangan di tempat ini sungguh berbanding terbalik dengan yang ada di negeriku. Di sini penduduknya seperti lebih senang bermalas-malasan.”

Seketika Adun sudah ada tepat di hadapanku dan mencengkram bajuku. Aku yang tidak menyadari pergerakan tangan Adun ini pun tidak sempat menangkisnya.

“Jaga ucapanmu! Kau jangan asal bicara jika tidak tahu yang sebenarnya. Leluhur kami sudah menerapkan prinsip itu sejak dulu, jadi kau tidak boleh sembarangan berbicara. Paham tidak, heh!”

“Justru karena aku tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik itulah aku berani mengutarakan pendapatku,” ujarku seraya mencari cara untuk melepaskan diri dari cengkraman Adun.

“Aku tetap tidak percaya dengan apa yang kau katakan!” ujar Adun.

Astaga. Cengkraman Adun semakin kuat. Baiklah, akan aku kerahkan segenap tenagaku untuk membebaskan diri. Dan, yes! Berhasil. Kini giliranku yang memiting Adun.

“Hei! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” ujar Adun.

“Tadi Adun bilang tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Aku bisa membuktikan bahwa ucapanku bukan omong kosong belaka,” ujarku.

“Hahaha, silakan saja buktikan ucapanmu itu, aku yakin prinsip yang kuanut itulah yang benar,” ujar Adun meremehkanku.

“Baik! Aku akan menantangmu, selama tujuh hari berturut-turut Adun harus menerapkan prinsip yang aku anut. Jika selama tujuh hari saja prinsip yang aku anut itu terbukti membawa  dampak baik bagi kehidupanmu, maka kamu harus mengajak seluruh penduduk di sini untuk mengikuti prinsipku,” ujarku.

“Aku terima tantanganmu. Tapi, jika ternyata prinsipmu itu tidak berpengaruh terhadap kehidupanku, maka kamu yang harus mengikuti prinsipku, sekarang lepaskan aku,” ujar Adun.

Aku pun melepaskan Adun. Adun pun berdiri dan pergi begitu saja dari hadapanku.

Hari demi hari pun berganti. Aku melihat Adun benar-benar menepati ucapannya, dia melaksanakan tantangan yang kuberikan. Awalnya Adun terlihat seperti tersiksa ketika melakukan semua kegiatan dengan tidak berleha-leha dan mulai belajar untuk tepat waktu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku melihat Adun mulai bisa menyesuaikan diri. Hari yang dijanjikan pun tiba. Tepat setelah tujuh hari Adun melaksanakan tantangan yang kuberikan, aku pun menemui Adun di ruang utama untuk mengetahui apa yang akan dia katakan mengenai prinsipku.

“Adun. Boleh aku duduk di sampingmu?”

“Tentu saja boleh. Silakan,” ujar Adun seraya tersenyum ramah.

Aku tidak menyangka Adun bisa bersikap seramah ini padaku.

“Aku mau mengatakan sesuatu padamu anak muda. Sekarang aku mengerti kenapa kamu begitu kekeh mempertahankan prinsipmu itu, bahkan kamu dengan beraninya menantangku untuk mencoba prinsipmu. Ternyata jika kita bangun pagi dapat menjadi awalan yang baik untuk memulai hari, bisa mengerjakan semua pekerjaan dengan segera, kemudian tepat waktu ketika memiliki janji bertemu dengan seseorang tentunya bisa membuat kita lebih disukai dan dihormati orang lain,” ujar Adun.

Aku hanya bisa tersenyum senang ketika Adun mengatakan itu.

“Baiklah, sesuai dengan kesepakatan kita, aku akan menemui tetua untuk mendiskusikan hal ini dan mengajak seluruh penduduk untuk merubah prinsip yang buruk itu.”

“Terima kasih, Adun. Aku senang sekali mengetahui hal tersebut,” ujarku.

“Nah, apa kubilang. Benar bukan? Anak ini pasti berbeda, dia membawa kita pada perubahan yang lebih baik lagi,” ujar Patik yang tiba-tiba sudah ada di ruangan utama.

Aku dan Adun pun terkejut melihat kehadiran Patik. Lantas kami pun tertawa melihat Patik mengenakan jubah terbalik.

Oleh: Intan Kholida Dj.S

(VN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here