Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam cara manusia berinteraksi, khususnya bagi remaja yang tumbuh dan berkembang di tengah arus media sosial. Ruang digital kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi arena utama bagi remaja untuk berekspresi, membangun identitas diri, serta memperoleh pengakuan sosial. Media sosial telah menjelma menjadi cermin simbolik tempat remaja menilai diri mereka sendiri melalui respons dan penilaian orang lain. Dalam proses tersebut, muncul berbagai fenomena psikologis yang berdampak besar terhadap kesehatan mental remaja, salah satunya adalah body shaming.
Body shaming sering kali dipersepsikan sebagai hal yang sepele, wajar, bahkan dianggap lucu dalam interaksi sehari-hari. Padahal, dampak dari perilaku ini dapat menetap dalam jangka panjang dan memengaruhi perkembangan psikologis remaja secara signifikan. Body shaming dapat dipahami sebagai tindakan memberikan penilaian negatif terhadap tubuh seseorang, baik secara langsung maupun tersirat. Penilaian tersebut mencakup berbagai aspek fisik, seperti berat badan, bentuk tubuh, tinggi badan, warna kulit, hingga fitur wajah. Dalam kehidupan sehari-hari, body shaming kerap muncul dalam bentuk komentar spontan, seperti “kamu kelihatan gemukan”, “terlalu kurus”, atau “tidak sesuai standar cantik”. Meskipun sering diucapkan tanpa niat menyakiti, komentar semacam ini dapat menjadi beban psikologis yang berat, terutama bagi remaja.
Masa remaja merupakan periode perkembangan yang sangat sensitif terhadap penilaian sosial. Pada fase ini, individu berada dalam proses pembentukan konsep diri, yaitu gambaran mengenai siapa dirinya dan seberapa bernilai dirinya di mata sendiri maupun orang lain. Konsep diri tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh pengalaman personal serta respons lingkungan sosial. Ketika remaja menerima komentar negatif mengenai tubuhnya secara berulang, penilaian tersebut dapat terinternalisasi dan membentuk persepsi diri yang negatif. Tubuh yang seharusnya menjadi bagian alami dari identitas justru dipandang sebagai sumber kekurangan yang harus diperbaiki.
Dalam konteks budaya Indonesia, body shaming sering kali dinormalisasi. Komentar mengenai fisik dianggap sebagai bentuk keakraban, kepedulian, atau bahkan nasihat yang bertujuan baik. Tidak jarang, body shaming justru berasal dari orang-orang terdekat, seperti keluarga, teman sebaya, atau lingkungan sekolah. Ketika komentar negatif tersebut datang dari pihak yang memiliki kedekatan emosional, remaja kerap mengalami konflik batin antara perasaan tidak nyaman yang dirasakan dan keyakinan bahwa komentar tersebut seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Akibatnya, banyak remaja memilih memendam perasaan dan menganggap luka emosional sebagai sesuatu yang wajar.
Media sosial semakin memperkuat fenomena body shaming melalui penyebaran standar kecantikan dan ketampanan yang sempit. Platform digital dipenuhi oleh representasi tubuh ideal, seperti tubuh langsing, kulit cerah, wajah simetris, dan proporsi tubuh tertentu. Representasi tersebut sering kali tidak mencerminkan realitas karena telah melalui proses penyuntingan visual, penggunaan filter, serta kurasi konten yang selektif. Paparan yang terus-menerus terhadap gambaran tubuh ideal ini mendorong remaja melakukan perbandingan sosial dengan figur publik atau influencer yang dianggap sempurna. Proses perbandingan ini dapat memicu rasa tidak puas terhadap tubuh sendiri dan secara perlahan menurunkan kepercayaan diri.
Selain membentuk standar tubuh yang tidak realistis, media sosial juga menyediakan ruang bagi body shaming dalam skala yang lebih luas. Kolom komentar, pesan pribadi, serta akun anonim memungkinkan individu melontarkan kritik tanpa harus bertanggung jawab secara langsung. Body shaming di ruang digital sering kali dilakukan secara terbuka dan dapat disaksikan oleh banyak orang, sehingga rasa malu dan tekanan psikologis yang dialami korban menjadi berlipat ganda. Kondisi ini membuat remaja merasa bahwa penampilan fisik mereka selalu berada dalam pengawasan publik.
Dampak body shaming terhadap kesehatan mental remaja tidak dapat dianggap sepele. Salah satu dampak yang paling umum adalah penurunan harga diri. Remaja yang terus-menerus menerima komentar negatif mengenai tubuhnya cenderung merasa tidak berharga dan tidak layak diterima secara sosial. Perasaan tersebut dapat berkembang menjadi kecemasan sosial, di mana remaja merasa takut untuk tampil di hadapan orang lain atau berinteraksi secara terbuka karena khawatir akan dinilai secara negatif.
Dalam jangka panjang, body shaming juga berpotensi memicu gangguan psikologis yang lebih serius, seperti stres kronis dan depresi. Tekanan untuk memenuhi standar fisik tertentu dapat membuat remaja terjebak dalam ketidakpuasan berkepanjangan terhadap diri sendiri. Sebagian remaja bahkan mengembangkan hubungan yang tidak sehat dengan tubuh dan makanan, seperti melakukan diet ekstrem, olahraga berlebihan, atau pola makan tidak teratur, yang berisiko terhadap kesehatan fisik maupun mental.
Body shaming turut memengaruhi kualitas relasi sosial remaja. Banyak remaja menjadi lebih tertutup dan menarik diri dari lingkungan pergaulan karena merasa tidak percaya diri dengan penampilannya. Mereka cenderung menghindari situasi yang melibatkan penilaian fisik, seperti berfoto bersama, tampil di depan kelas, atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial tertentu. Akibatnya, kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan membangun hubungan yang sehat menjadi terhambat.
Menghadapi fenomena body shaming, diperlukan upaya kolektif dari berbagai pihak. Literasi digital menjadi salah satu kunci penting dalam membantu remaja memahami bahwa konten media sosial tidak selalu mencerminkan realitas. Remaja perlu dibekali kemampuan untuk menyaring informasi serta menyadari bahwa standar tubuh yang beredar di media sosial merupakan konstruksi sosial yang sering kali tidak realistis. Dengan pemahaman tersebut, kecenderungan untuk membandingkan diri secara berlebihan dapat diminimalkan.
Lingkungan keluarga dan sekolah juga memiliki peran strategis dalam membentuk sikap remaja terhadap tubuhnya. Dukungan emosional, komunikasi yang empatik, serta penghentian komentar negatif mengenai fisik dapat menciptakan ruang aman bagi remaja untuk menerima dirinya sendiri. Mengalihkan fokus dari penampilan fisik menuju apresiasi terhadap usaha, kemampuan, dan kepribadian dapat membantu remaja membangun konsep diri yang lebih sehat.
Selain itu, pendekatan body positivity dan body neutrality perlu terus dikembangkan. Remaja perlu diajak untuk menghargai tubuh mereka tidak semata-mata dari segi penampilan, tetapi juga dari fungsi dan peran tubuh dalam kehidupan sehari-hari. Ketika tubuh dipandang sebagai bagian dari diri yang layak dihormati, tekanan untuk memenuhi standar fisik tertentu dapat berkurang. Bagi remaja yang telah mengalami dampak psikologis yang berat akibat body shaming, pendampingan dari tenaga profesional seperti konselor atau psikolog menjadi langkah penting dalam proses pemulihan.
Pada akhirnya, body shaming bukan sekadar persoalan komentar negatif tentang fisik, melainkan cerminan dari cara masyarakat memaknai tubuh dan nilai seseorang. Mengubah budaya yang telah mengakar memang membutuhkan waktu dan kesadaran bersama. Namun, perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni lebih berhati-hati dalam berucap dan bersikap. Dengan menciptakan lingkungan yang lebih empatik dan suportif, remaja Indonesia diharapkan dapat tumbuh menjadi individu yang memiliki kepercayaan diri yang sehat serta kesejahteraan psikologis yang lebih baik di era digital.
Penulis: rabiah aladawiyah































