Fenomena body shaming pada remaja telah banyak dikaji dalam berbagai penelitian. Namun, di era digital saat ini, praktik body shaming semakin meluas seiring dengan kemudahan akses teknologi informasi dan komunikasi. Kebebasan berekspresi di dunia maya, meskipun memberikan ruang partisipasi yang luas, juga membuka peluang terjadinya perundungan verbal secara masif, khususnya melalui media sosial. Kondisi ini menjadikan remaja sebagai kelompok yang rentan terhadap dampak psikologis dari body shaming.

Body shaming dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan konteks, baik secara langsung maupun melalui media digital. Remaja, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki peluang yang sama untuk menjadi korban. Pada masa pubertas, perubahan tubuh terjadi secara bertahap dan berbeda pada setiap individu. Perbedaan tersebut sering kali memicu perbandingan sosial yang berlebihan, terutama ketika remaja terpapar konten media sosial yang menampilkan standar tubuh ideal. Keterlibatan intens dengan media sosial dapat memperkuat tekanan psikologis dan meningkatkan kecemasan terhadap penampilan diri (Atsila et al., 2021).

Erin (2016) mengelompokkan perilaku body shaming ke dalam beberapa bentuk, antara lain fat shaming yang ditujukan kepada individu dengan tubuh gemuk atau plus size, skinny/thin shaming yang ditujukan kepada individu dengan tubuh kurus, body shaming terkait rambut tubuh, serta body shaming berdasarkan warna kulit. Keseluruhan bentuk tersebut berakar pada ketidakmampuan individu untuk memenuhi standar tubuh ideal yang dikonstruksi secara sosial.

Body shaming memiliki keterkaitan erat dengan konsep citra tubuh (body image), yaitu persepsi individu terhadap tubuhnya sendiri berdasarkan standar sosial yang berlaku. Ketika individu merasa tidak mampu memenuhi standar tersebut, muncul perasaan rendah diri yang dapat berkembang menjadi gangguan psikologis. Paparan komentar negatif secara berulang dapat memicu rasa malu, penurunan kepercayaan diri, kecemasan, hingga depresi. Dalam kasus ekstrem, tekanan psikologis akibat body shaming bahkan dapat memunculkan ide bunuh diri atau tindakan bunuh diri (Blackwell, 2015).

Di era digital, body shaming sering kali dilakukan secara berulang dan terbuka melalui media sosial, sehingga dampaknya menjadi lebih luas dan sistematis. Ketika penghinaan dilakukan oleh teman sebaya atau orang terdekat, korban cenderung menahan reaksi secara langsung, namun mengalami tekanan psikologis yang semakin meningkat. Perlakuan body shaming yang berulang dapat membentuk citra diri negatif dan menurunkan self-esteem remaja, yang pada akhirnya memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka.

Untuk meminimalkan dampak psikologis akibat body shaming, diperlukan beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh individu maupun lingkungan sekitarnya. Pertama, pengembangan self-compassion menjadi langkah penting dalam membantu korban memulihkan kondisi psikologisnya. Self-compassion mendorong individu untuk menerima diri secara lebih positif, mengelola emosi secara adaptif, serta membangun ketahanan psikologis terhadap penilaian negatif.

Kedua, korban disarankan untuk membatasi keterlibatan di media sosial dan menyaring interaksi yang berpotensi menimbulkan tekanan psikologis. Pembatasan ini merupakan bentuk perlindungan diri untuk menjaga keseimbangan emosional. Ketiga, penguatan self-acceptance dengan dukungan lingkungan yang suportif, seperti keluarga dan teman sebaya, dapat membantu korban membangun kembali kepercayaan diri dan rasa aman dalam mengekspresikan diri.

Body shaming merupakan bentuk kekerasan verbal dan emosional yang memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan psikologis remaja. Pada masa perkembangan yang ditandai oleh perubahan fisik dan pencarian identitas diri, body shaming dapat merusak harga diri, memicu kecemasan, serta menurunkan kesejahteraan psikologis. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif mengenai bahaya body shaming, edukasi yang berkelanjutan, serta dukungan psikologis yang memadai agar remaja dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, inklusif, dan menghargai keberagaman tubuh.

Penulis: Ruth Rosalinda Purba

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here