Pernahkah seseorang bercanda tentang bentuk tubuhmu, warna kulitmu, atau berat badanmu—lalu mengatakan, “Ah, cuma bercanda”?
Bagi banyak remaja Indonesia, kalimat seperti itu bukan sekadar candaan, melainkan luka yang pelan-pelan menggerogoti kepercayaan diri.

Di tengah gempuran media sosial dan standar kecantikan yang seragam, body shaming menjadi fenomena yang semakin sering dialami, terutama oleh remaja perempuan. Komentar negatif tentang tubuh kini hadir bukan hanya di lingkungan sekitar, tetapi juga di layar ponsel—melalui unggahan, meme, dan kolom komentar yang tak jarang kejam.

Candaan yang Tidak Pernah Benar-Benar Lucu

Body shaming adalah tindakan memberi komentar negatif terhadap kondisi fisik seseorang, mulai dari bentuk tubuh, berat badan, tinggi badan, hingga warna kulit. Sayangnya, praktik ini sering dibungkus dalam bentuk humor, sehingga dianggap wajar dan tidak berbahaya.

Padahal, bagi remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri, komentar tentang fisik dapat berdampak jauh lebih dalam. Masa remaja adalah periode krusial dalam pembentukan identitas. Psikolog Erik Erikson menyebut fase ini sebagai identity versus role confusion, ketika remaja berusaha memahami siapa dirinya dan bagaimana ia dilihat oleh orang lain. Di tahap ini, penilaian sosial—terutama dari teman sebaya—memiliki pengaruh besar.

Ketika tubuh menjadi sasaran ejekan, remaja mulai mempertanyakan nilai dirinya sendiri.

Media Sosial dan Standar yang Tidak Realistis

Perkembangan media sosial semakin mempersempit definisi cantik dan menarik. Platform seperti Instagram dan TikTok dipenuhi visual tubuh “ideal”: langsing, kulit cerah, wajah simetris, dan penampilan sempurna. Ironisnya, banyak dari konten tersebut telah melalui proses filter, editing, bahkan manipulasi digital.

Namun, bagi remaja, gambaran tersebut sering dianggap sebagai realitas. Dalam psikologi sosial, kondisi ini dikenal sebagai social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Masalahnya, perbandingan ini tidak seimbang—tubuh nyata dibandingkan dengan standar digital yang nyaris mustahil dicapai. Akibatnya, muncul perasaan tidak cukup baik, tidak menarik, dan tidak layak. Dari sinilah body shaming berkembang, baik yang datang dari orang lain maupun dari diri sendiri (self-body shaming). Body shaming pada remaja Indonesia dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, ia hadir dalam bentuk ejekan verbal di lingkungan pertemanan. Secara digital, ia menjelma menjadi komentar jahat, pesan pribadi, atau konten bercanda yang merendahkan fisik seseorang.

Dampaknya tidak main-main. Remaja yang mengalami body shaming cenderung memiliki citra tubuh negatif dan kepercayaan diri yang rendah. Mereka merasa malu, menarik diri dari pergaulan, dan takut menjadi pusat perhatian. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat perkembangan sosial dan emosional.

Lebih dari itu, body shaming juga berkaitan erat dengan kesehatan mental. Berbagai penelitian menunjukkan hubungan antara pengalaman body shaming dengan meningkatnya kecemasan, stres, dan gejala depresi. Tekanan untuk memenuhi standar kecantikan tertentu bahkan dapat mendorong perilaku tidak sehat, seperti diet ekstrem dan gangguan pola makan.

Kekerasan Psikologis yang Dinormalisasi

Meski sering dianggap sepele, body shaming sejatinya merupakan bentuk kekerasan psikologis. Ia melukai harga diri dan membentuk persepsi negatif tentang diri sendiri. Ketika candaan tentang fisik terus dinormalisasi, korban perlahan menginternalisasi hinaan tersebut dan menganggapnya sebagai kebenaran.

Luka ini memang tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Menghadapi fenomena body shaming tidak bisa dibebankan pada remaja semata. Dibutuhkan peran bersama dari keluarga, lingkungan sosial, dan ruang digital itu sendiri. Beberapa langkah sederhana namun penting dapat dilakukan, seperti:

  • Membangun rasa percaya diri dan penerimaan diri

  • Lebih fokus pada kelebihan dan potensi, bukan kekurangan fisik

  • Bijak dalam menggunakan media sosial dan membatasi konten negatif

  • Mencari lingkungan yang suportif dan aman

  • Berani menegur atau melaporkan perilaku body shaming

Yang terpenting, kesehatan mental harus menjadi prioritas, bukan sekadar memenuhi standar fisik yang diciptakan media. Body shaming pada remaja Indonesia adalah cerminan dari tekanan standar kecantikan yang sempit dan tidak realistis. Fenomena ini tidak hanya merusak citra diri, tetapi juga mengancam kesejahteraan psikologis generasi muda.

Penulis: Aufi A’dilla

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here