Lahir Tanpa Ibu

0
1127

“Lisa, cepat bergerak! Bantu Dina berkemas!” ujar dia, namanya Dina, putih, tinggi, langsing, ah. Dina adalah satu satunya perempuan paling cantik yang pernah aku temui. Aku selalu suka memandang wajahnya. Aku sedang makan keripik kentang yang Dina bawa sore ini dengan tergesa-gesa. Aku tidak tahu ada apa, apa yang terjadi dengan dia, yang pasti aku sudah tidak heran dengan keadaan seperti ini. Biasanya Dina tidak menyuruhku membantu, karena itu aku dengan santai makan keripik kentang rasa barbeque kesukaanku.

“ya, tunggu sebentar!” aku meletakkan keripik itu. Wajah Dina tampak pucat pasi, peluhnya keluar dengan banyak. Rambutnya bahkan tidak terurai seperti biasa, terikat kuat seperti kuncir kuda. Basah. Penuh dengan peluh dan keringat yang mengguyur sekujur tubuhnya. Tangan kecilku membantu Dina berkemas, baju baju tidak berlengan, celana pendek sebatas paha, kalung dan cincin semua hanya dimasukkan kedalam tas dengan paksa, tidak dirapikan sepantasnya.

Aku tidak heran dengan sikap Dina malam ini, karena kami berdua sudah sering melakukan hal seperti itu. Dina yang pulang dengan wajah pucat pasi, lidah kelu, berpeluh, tergesa gesa, untuk kemudian berkemas. Sudah biasa bagiku untuk berpindah pindah rumah. Aku tidak tau sudah berapa kali aku dan Dina berpindah, dan rumah keberapa sekarang. Aku tidak pandai berhitung, kata Dina, itu tidak penting. Yang aku ingat hanyalah umurku dan umur Dina. Namaku Lisa, kata Dina, umurku Sembilan tahun, sedangkan Dina, umurnya tiga puluh satu tahun.

“ayo Lisa, percepat langkah! Kita harus pergi. Ini sudah larut!” Seru Dina dengan suara lembutnya. Aku masih tidak mengerti dengan semua hal yang terjadi pada Dina. Ketika kami sedang berkemas, banyak orang menggedor-gedor pintu rumah. Berteriak seakan akan mereka berada di hutan belantara. Apalagi pak Arman, dia yang paling semangat dan paling menggebu mengusir Aku dan Dina malam ini. Padahal aku ingat sekali, dulu, ketika kami baru sampai di kampung ini, Pak Arman sebagai ketua RT sangat menyambut kami dengan ramah. Bahkan kumis tebalnya sumringah ketika pertama kali melihat Dina. Tapi sekarang? Dia yang paling sangar, semangat Pak Arman mengusir kami berdua sangat menggebu gebu. Entah apa kesalahan Dina sampai wanita secantik dia harus dihukum separah ini.

Dulu aku juga mengenal Pak Hengki, dia yang paling berkesan diantara banyak bapak bapak yang datang. Dia berparas sangat teduh, pakaiannya rapih. Yang paling aku suka dari Pak Hengki adalah kebaikan dia memberikan kami rumah. Aku ingat sekali, rumah itu berwarna oranye, tingkat tiga. Luas sekali! Bahkan aku bisa bermain sepeda didalamnya. Tapi, setiap orang yang mengenal Dina agaknya selalu berubah seluruhnya. Pak Hengki juga mengusir kami, oh, aku lupa. Bukan pak Hengki yang mengusir, tapi wanita berambut hitam lebat itu. Dia marah marah kepada Dina dan Pak Hengki tanpa memberi ampun. Setelah acara marah marah itu selesai, lagi lagi aku dan Dina berkemas. Aku sedih ketika sepeda kesayanganku tidak dapat aku bawa.

Malam ini kami tidak tentu arah. Dina mengecek gawainya, aku menerka jika dia mencari rumah untuk kami berteduh malam ini. Oh iya, satu hal yang ingin aku beritahu kali ini, Dina selalu mencari hunian yang dekat dengan taman. Keseharianku, seluruh hidupku, aku habiskan di sana. Sedangkan keseharian Dina, seluruh hidup Dina, aku tidak tau ia habiskan di mana. Setelah agak lama berjalan, kaki kecilku pun tampaknya sudah tidak bisa diajak kompromi, akhirnya kami menepi di suatu rumah kecil, yap, di ujung jalan di dekat taman. Malam ini aku tidur dengan nyenyak, dan seperti biasa, Dina tidak.

Pagi hari, Dina dan aku memulai aktivitas seperti biasa. Mandi, sarapan, tertawa bersama seakan tidak terjadi apa apa tadi malam. “Lisa, Dina suka istana baru kita. Semua dari kayu, Dina merasa seperti berada di buku Pramoedya Ananta saja. Berharap minke datang dan berkunjung. Lalu Lisa mengajak minke berkeliling. Hahaha.” Kata Dina sembari kami sarapan pagi. Aku hanya tertawa, berkali kali Dina menceritakan beberapa novel kesukaannya, dia wanita maniak novel.

Sarapan pagi dipenuhi dengan ocehan dan cakapan kecil dari kami berdua. Lihatlah Dina, aku suka memperhatikanya. Dia sangat cantik dengan mata bulat dan bulu matanya yang lentik. Alis yang asli, gingsulnya, lesung pipitnya. Dia adalah wanita yang sempurna, setiap perkataannya adalah yang indah indah saja. Suaranya lembut. Bahkan, ketika Ia sarapan, tidak ada satupun aku mendengar suara sendok dan piring yang beradu. Dia amat cantik dan anggun, aku merasa beruntung bisa berada didekat Dina.

“jam berapa Dina pergi?” aku bertanya untuk kesekian kalinya hari ini, kemudian Dina mengambil gawainya. “pagi ini, sebentar lagi, Lisa menunggu saja di taman ya. Taman baru! Pasti seru!” Jawab Dina dengan senyumnya, aku luluh seketika.

Pagi itu juga Dina berangkat, dia dijemput oleh seorang lelaki dengan kumis yang tipis. Aku tidak mengenal laki laki itu, yang pasti ketika berangkat, aku berkata kepadanya untuk menjaga Dina dengan baik. Dia hanya tersenyum, mengusap kepalaku, kemudian berlalu meninggalkan aku dengan keripik kentang di tangan kanan, dan minuman bersoda di tangan kiri.

Aku berjalan gontai dari istana menuju ke taman baru yang Dina elu elukan ketika sarapan tadi. Banyak permainan di sini, tapi tidak ada orang. Tidak ada teman sebayaku jam segini, aku tau mereka semua sedang pergi ke suatu tempat yang penuh dengan teman seumuran. Memakai baju yang seragam, memakai tas bergambar Elsa frozen, karakter kesukaanku. Aku merasa beruntung jika aku berada dalam posisi yang sama dengan mereka.

Tapi nyatanya tidak. Hai, inilah aku, Lisa yang sebenarnya. Duduk di bangku taman sendirian, bermain di taman sendirian, dengan berbagai macam pertanyaan yang membenak didalam kepala. Kemana Dina? Apa yang dilakukannya sehingga harus meninggalkan Lisa yang kecil ini. Aku sendiri, inilah aku yang selalu bahagia di depan Dina, namun murung ketika sendirian di taman yang sepi, taman yang selalu berubah ubah hampir setiap bulannya. Inilah Lisa kecil yang selalu ingin tahu. Ingin tahu tentang apa? Kadang ada saja wanita atau laki laki seumuran Dina yang bertanya.

“dimana ibumu, nak?” seorang wanita berkaos biru datang menyapa.

“aku tidak punya ibu.” Jawabku singkat.

“apa kau punya ayah? Dimana ayahmu?” pertanyaan kedua muncul.

“aku tidak tahu apa itu ayah, aku juga tidak perduli siapa kau.” Lalu aku pergi meninggalkan wanita itu, namun membawa pertanyaan pertanyaannya tiap kali aku berada di bangku taman.

Dimana ibuku? Aku tidak tahu. Dina pernah menyebut nyebut ibu ketika ia bercerita mengenai novel Tere Liye, yang judulnya Moga Bunda Disayang Alloh. Disitu aku tahu arti seorang ibu. Ia adalah wanita yang rela melakukan apa saja demi anaknya.

“ibu adalah wanita yang sangat tulus, mencintai dan merawat anaknya dengan teliti. Bahkan ketika nyamuk menggangu anaknya, seorang ibu akan sangat murka, Lisa. Ketika anaknya lapar tapi tidak ada makanan, seorang ibu rela tidak makan dan melakukan apa saja demi anaknya supaya anaknya kenyang. Jadilah setulus Ibu, Lisa.” Jelas Dina.

Tapi, dimana ibuku? Lalu, dimana ayahku? Dina tidak pernah sekalipun menyinggung ataupun berkata satu patah kata pun mengenai ayah. Aku tidak tahu ayah itu apa. Sungguh, aku tidak tahu. Aku masih duduk di taman ini. Dina bilang, Ia akan menjemput aku ketika dia sudah pulang. Aku sudah terbiasa dengan jadwal ini, berlama lama di taman membuat aku belajar banyak hal. Tapi tidak seperti berhitung, aku hanya mengetahui beberapa kata kata atau benda benda baru. Termasuklah kata ibu dan kata ayah yang sering kali ditanyakan kepadaku.

Taman ini bagus, di sekelilingku banyak permainan yang bisa aku coba berjam jam dengan gratis tanpa harus membayar. Ada jungkat jungkit, ayunan, dan berbagai macam  permainan lagi. Aku melirik kearah ayunan, duduk di sana lalu termenung akan suatu hal yang pernah terjadi, sudah agak lama. Namun selalu membekas dan aku tidak akan pernah lupa.

Dulu, aku mempunyai teman yang bersedia selalu bermain denganku saat aku berada di taman. Hanya satu, namanya Jingga. Badan Jingga lebih besar dari aku, yang pasti umurnya juga lebih tua. Dulu aku tidak ingin kehilangan Jingga, hingga kejadian di sore itu datang. Kami duduk berdua di ayunan besi yang sudah berkarat, katanya ini milik Pakwo Heru. Kami bermain seperti biasa, hingga tiba tiba Jingga menyinggung untuk membicarakan banyak hal mengenai Dina.

“Mamak melarang aku dekat dekat dengan kau, katanya Ibunya Lisa wanita tidak baik.” Kata Jingga tanpa melihat kearahku.

“Ibuku?” aku menjawab keheranan.

“Tante Dina, Lisa. Mamak bilang dia itu ibumu, dan ibumu tidak inginkan kau.” Jelasnya.

“heh? Dina tidak menginginkan aku? Apa maksud kau Jingga?” aku belum mengerti.

“pokoknya Mamak bilang kalau Tante Dina wanita tidak baik. Dia selalu berpergian dengan lelaki yang berbeda setiap malam. Aku dengar itu waktu Mamak bicara dengan Buk RW. Gadis sekecil kau mana pernah perduli, Lisa.” Jingga berkata panjang lebar dan aku tidak menerima hal itu.

“berhenti menyebut Dina wanita tidak baik!” aku pergi meninggalkan Jingga. Sejak saat itu, aku sangat membencinya. Sejak saat itu, aku tidak mau lagi mengenal orang orang.

Mengingat kejadian itu membuat aku semakin merasa bingung. Pertanyaan mengenai dimana ibu dan ayah berputar putar dikepalaku. Lalu, ada satu lagi yang mulai aku pertanyakan: siapa Dina? Dia wanita yang baik. Dia merawatku dengan baik, memberi makan, menjaga tidurku, tidak pernah lupa keripik kentang kesukaanku. Bukankah hal itu hanya dilakukan oleh seorang ibu? Apa benar Dina adalah ibuku? Seperti yang dikatakan mamaknya Jingga dulu? Lamunanku mengenai pertanyaan pertanyaan yang bergelut di dalam pikiran seketika buyar saat Dina datang. Dia menjemput aku, hari sudah sore, dan aku ingat lelaki yang bersama dina sore ini berbeda dengan lelaki yang bersama Dina pagi tadi. Yang ini botak dan agak tua.

“Lisa! Ayo pulang!” Dina berseru. Aku berlarian kecil menuju pintu keluar taman.

“Dina, ini siapa?” aku menunjuk kearah lelaki botak itu.

“Lisa, ayo pulang.” Dina tidak menggubris pertanyaanku. Lelaki itu juga terlihat tidak perduli dengan aku, sangat berbeda dengan lelaki pagi tadi.

Perkataan mamak Jingga mengenai Dina yang selalu pergi dengan banyak lelaki adalah benar. Tapi, menurutku itu sah sah saja. Dari dulu aku sudah terbiasa melihat Dina dan teman temannya pergi dengan banyak lelaki setiap harinya, meskipun aku tidak tahu untuk apa. Diatas motor ini aku duduk ditengah tengah Dina dan Bapak Botak menyebalkan ini. Dalam hati masih tersimpan berbagai macam pertanyaan yang sekarang tidak lagi dapat ditahan. Malam ini juga, harus aku tanyakan. Aku sudah tidak tahan dengan rasa penasaran yang tak kunjung usai.

Lelaki itu pergi ketika kami berdua sudah masuk kedalam istana. Dina tampak begitu lelah, dia langsung duduk di kursi sebelah kiri yang terbuat dari bambu itu. Meletakkan barang barangnya sembari melepas gelang dan kalung yang melekat ditubuhnya. Aku memulai pertanyaanku dengan jantung berdebar.

“Dina, kemana saja Dina hari ini?” Aku bertanya. Tidak pernah rasanya aku menanyakan hal seperti ini kepada Dina.

“Aku bekerja, Lisa.” Dina menjawab singkat.

“Apa yang Dina kerjakan?” Aku bertanya lirih. Namun Dina menjawab dengan tatapan tajam, aku terdiam. Keripik kentang berbeque diatas meja berkaki tiga itu tidak aku sentuh. Mereka sangat tidak menarik untuk dimakan hari ini.

“Mencari uang, untuk kau makan.” Dia menjawab ketus. Kau? Sejak kapan dia memanggil aku dengan sebutan kau?

“Dina, boleh aku tanya?”

“Apa? Kenapa hari ini kau banyak tanya.” Dina seperti tidak nyaman ketika aku mulai banyak tanya. Tapi aku harus menanyakan hal ini, hidup tidak akan terasa puas ketika masih ada banyak sesuatu yang mengganjal didalam diri.

“Dimana ibuku?” Tanyaku.

Dina hanya diam, menundukkan kepalanya, wajah cantiknya seketika meredup. Hanya dua kata yang aku lontarkan, apa aku salah? Dina terdiam dan badannya tergugu. Bergetar getar menahan lonjakan air mata yang mengalir deras sebab hanya dua kata itu: dimana ibuku?

Aku terdiam. Jam dinding bak berhenti berjalan. Kami berdua lengang ditengah rumah kayu ini. Entah kenapa sekarang aku juga berharap Minke datang berkunjung untuk menghibur Dina yang sedang tertunduk sedih sebab aku.

“Dina?” Aku memanggilnya.

“Lisa, apa kau senang berada di dekat aku?” Ucapnya lirih dengan tersedu sedu.

“Aku senang sekali. Aku selalu ingin dekat kau.” Jawabku bergetar, aku menahan tangis agar tidak keluar. Susah payah.

“Akan ada banyak orang yang berwatak seperti mamak Jingga, tapi ketahuilah aku inginkan kau, aku menyayangi kau, Lisa. Akan ada masa yang tepat untuk kau tau.”

“Aku tidak menanyakan mamak Jingga, aku tanya dimana ibuku” kataku dengan tegas.

“Mamak Jingga sudah tau, dan mamak Jingga benar.” Ujar Dina sambil mengusap kepalaku. “Ketahuilah aku inginkan kau, aku menyayangi kau, Lisa.”

Dina tersedu, namun hanya sesaat. Hidup menempah hatinya sekeras batu. Aku masih membeku mendengar penjelasan Dina yang berbelit belit. Mamak Jingga, Mamak Jingga, Ia selalu berkata Mamak Jingga.

“Lisa tidurlah.” Dina menuntun aku ke tempat biasa kami berdua tidur, ranjang kayu dengan alas berwarna Nila. Dia berbaring di sampingku, memeluk aku yang terdiam kaku. Aku tidak bisa tidur, pikiranku kacau. Mataku terpejam, namun masih bisa mendengar suara dengan jelas.

Malam itu aku tidak tidur, terlebih ketika alunan sepatu hak tinggi Dina mengetok ngetok berjalan di lantai. Dan beberapa saat kemudian sebuah mobil datang. Diikuti dengan suara Dina membuka pintu. Terdengar pula lelaki yang amat berat suaranya memanggil manggil dan mengelu elukan Dina. Pintu mobil tertutup. Bunyi mesin mobil berlalu semakin menjauh, membawa seorang Dina, dengan pekerjaannya, malam itu.

Alsa Dilla Wahyuni mahasiswa Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia FKIP Universitas Jambi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here