SAYATAN DANDELION

0
583

Karya : Adelia Gita Sonia


            “ Harga turunkan! Rakyat mati! Pemerintah kejam! “

Masyarakat hari ini berkumpul di balai kota untuk melakukan aksi demo ke kantor DPR, mereka gerah dengan kemiskinan yang semakin parah di Indonesia. Aksi ini tidak lepas pula dari jangkauan mata para wartawan yang kehausan berita, berkeliaran seperti cacing untuk mendapatkan berita yang bisa menaikkan rating perusahaan masing-masing.

            “ Bi Cum,tukar sajalah mending nonton sinetron “ ujarku.

Aku menjadi gerah melihat bi Cucum mondar-mandir di depan televisi,baru kali ini pula aku melihat wajah yang penuh kerutan itu menegang sampai urat-uratnya ikut melotot, apalagi saat para wartawan yang suka melebih-lebihkan berita itu menjelaskan tentang serangan massa kepada pihak kepolisian.

            “ Duh gusti, aku bilang juga apa “ bi Cucum berbicara sendiri sembari  mengambil kerudung, memakainya juga asal letak saja di atas kepala yang hampir beruban itu dan dari geriknya aku tau ia akan segera berlalu dari warung sate reot miliknya ini.

            “ Bi Cum, terus satenya ini gimana?” aku sedikit berteriak,aku panik ditinggal sendirian apalagi aku baru bekerja diwarung sate bi Cum ini dan itu pun hanya membantu mengantarkan pesanan saja.

            “ Kamu aja yang urus “ bi Cum berujar tanpa menoleh

Sebenarnya bukan hal asing lagi melihat bi Cum sangat khawatir kerap kali ada demo, semua warga sekitar sini tau siapa bi Cum sang wanita  menuju tua bangka yang akan mengupat sepanjang jalan  dari warungnya tentang pejabat Negara dan hilang di perempatan simpang arah pasar rebo.Sebenarnya aku sangat terpaksa bekerja dengan bi Cum tapi mau bagaimana lagi, Indonesia sekarang ekonomi nya sedang terpuruk, apa-apa mahal dan akibatnya salah satu warga yang menderita seperti aku ikut terjebak bersama kepulan asap sate warung bi Cum.

            “ Kemana lagi pelacur gila itu “ lamunan ku buyar akibat kalimat menohok pelanggan yang ternyata sedari tadi ada di warung ini.

            “ Mas, semua orang tau bi Cum akalnya agak kurang tapi bicarain orang melenceng akhlaknya itu kelewatan “ Aku sedikit emosi saat  bi Cum dijelek-jelekan seperti ini,ya walaupun dia sedikit tidak waras tapi jujur saja dia baik sekali padaku dan keluarga ku walapun dia sebenarnya tidak ingat siapa kami.

Aku sangat penasaran kenapa bi Cum bisa seperti ini,sebenarnya jika ingin dibilang tidak waras itu agak berlebihan karena orang gila pastinya tidak akan bisa membuka warung sate, apalagi sate bi Cucum terkenal enak. Aku masih ingat sekali sekitaran 3 tahun yang lalu saat aku pulang ke Malang selepas wisuda bapak membelikan sate bi Cucum sebagai perayaan S1 ku dan itu merupakan malam yang menjadi awalan buruk,bukan karena sate bi Cucum yang tidak enak bahkan aku berani bertaruh dengan semua pedagang sate se kota Malang bahwa tidak ada yang bisa menandingi keenakan sate bi Cucum. Masalah utamanya itu ya aku,aku fikir mencari kerja dengan modal sarjana itu gampang tinggal kirim surat keperusahaan yang mencari karyawan dan semuanya beres tapi malah kenyataannya aku harus tabah dan tawakal karena harus berakhir di warung sate dan berbagi oksigen yang sama dengan Cucum yang terkenal gila.

                                                                        ***

            “ Mbok,piring yang pecah ini aku buang sajalah tidak baik menyimpannya mana tau ini simbol sial” aku paling tidak suka dengan tingkah ibuku yang suak mengoleksi barang pecah belah.

            “ Mulutmu itu pengen sekali mbok robek, kalau ngomong itu ya asal ngomong aja  mana ada simbol sial. Kalaupun kamu sial ya urusanmu dan nasibmu itu” ibuku menepuk pundakku dan berlalu keruang tengah.

Ibuku adalah seorang guru dan bapakku seorang camat dan perkenalkan aku seorang pengangguran. Bak sebuah pohon aku ini benalu yang hidup menumpang dikeluarga ini,ibuku sangat malu pada teman-temannya karena anak kesayangannya malah berakhir di bangunan tua bersama tusukan sate,asap beserta teman-temannya yang menjadikannya sate utuh.

            “ Mbok, bi Cum tadi lagi-lagi berulah” aku menyusul ibuku keruang tengah yang sekarang tengah asik matanya itu melihat acara dangdut kesayangannya.

            “ Yowes, tidak usah di permasalahkan” begitu saja ujar ibuku bahkan ia pun tak melihat mata tajam ku yang menunjukkan rasa penasaran yang besar.

            “ Bi Cum kenapa begitu ?” tanya ku lagi

            “ Ya begitulah “ asal tanggap saja ibuku itu

            “ Tadi ada pelanggan bilang bi Cum pelacur “ mendengar ujaranku kali ini,ibuku mulai melihat ku dan bahkan meminta ku untuk bercerita.

            “ Anak muda zaman sekarang,asal ngujar saja. Bi Cum itu dulu kembang desa banyak sekali pemuda yang ingin melamarnya. Tapi ayah bi cum itu keras kepala dia ingin sekali anaknya itu jadi pegawai negeri dan punya menantu bupati. Bi Cum kadang di sekolahkannya tengah malam sama guru sewaan dan gurunya inilah yang akhirnya membuat bi Cum itu bunting,orang tua bi Cum minum racun karena malu,bagaimana tidak bapaknya itu kiai tapi perilaku kayak preman anak sendiri seperti ingin dijual dengan uang. Akhirnya bi Cum itu melahirkan sama eyangmu dibantu. Awalnya itu bi Cum kaya raya karena orang tuanya  ninggalin banyak harta bahkan anaknya dulu jadi polisi tapi sialnya lagi  anaknya itu meninggal korban massa saat demo 17 tahun lalu makanya bi Cum itu stress kalau liat ada orang demo-demo “

Seketika aku mengerti penderitaan hidup bi Cum, Negara kita ini tidak peduli dengan orang-orang lemah apalagi yang tinggal di desa terpencil. Pemerintah asik memperkaya diri dan rakyat yang ingin mati ya mati saja yang tidak menerima keadilan ya tanggung saja.

                                                                        ***

Esok nya ibu menyampaikan kabar duka,bahwa bi Cum sudah tiada. Ternyata saat ia pergi dengan tergesa kemarin ia menuju ke tempat demo, entah apa yang ingin dilakukannya disana.Saat di jalan raya sebuah bus pariwisata ugal-ugalan siang bolong dan menjadikan darah bi Cum santapan hangat roda hitam raksasa itu. Tidak habis-habis derita yang ditanggungnya kinipun nyawanya yang merupakan harta satu-satunya di serahkannya pula pada ketidak adilan dunia ini.

            “ Bagus lah bi Cum meninggal,orang gila sini akhirnya berkurang “ aku mendengar bisik-bisik warga di depan mayat yang tergolek kaku sekarang,teganya mereka mengupat orang yang sudah tiada. Rasanya ingin sekali ku cabik mulut jelek mereka yang bau kuburan itu,atau ingin aku jambak rambut mereka yang kutuan itu. Tega sekali dia menghina Cum,bi Cumku yang semua harapan yang di layangkannya pada semesta satu-satu tersayat dengan kekejaman dunia.

Aku kini mengerti tentang hidup, yang kejam itu sebenarnya harapan tinggi yang dibentuk manusia dan tidak mampu dikendalikan. Bi Cum tidak gila, bahkan aku merasa bahwa keinginannya pun tidak banyak. Ia hanya ingin dunia ini damai,ia tidak ingin orang lain merasakan apa yang dia rasakan. Sebenarnya lagi banyak sekali harapan yang ingin aku gapai,tapi kali ini aku hanya ingin memberi tahu dunia bahwa bi Cum itu tidak gila dan dia istimewa.

Beberapa bulan kemudian aku kembali lagi ke Jakarta,kini aku sudah mendapatkan pekerjaan yang kurasa bisa membantu harapan bi Cum yang tertunda.             “ Baiklah pemirsa kembali lagi bersama saya di berita sore ini “ Bi Cum,aku berjanji akan membantu keadilan lewat pekerjaan ini. Tenang disana,karena kisahmu menginspirasi banyak orang dan aku.

Adelia Gita Sonia merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Jambi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here